September 20, 2011 pada 3:05 am (Uncategorized)

Krishna menyerang surga demi Satyabhama
Krishna mendekati Satyabhama dan dengan lembut menyentuhnya, tapi dia menepis tangan-Nya. “Pergilah Engkau !”, dia berkata dengan pedas. “Pergilah pada ratu kesayangan-Mu. Engkau pendusta. Engkau telah mempermalukan dan mengejekku di depan semua orang”. Krishna berkata, “Dengarlah, Aku hanya memberikan satu kuntum bunga pada Rukmini, engkau sudah begitu kecewa. Aku akan membawa seluruh bunga parijata dari surga dan menanamnya di halaman istanamu.” Satyabhama menjawab, “Engkau tidak bisa memberiku sekuntum bunga, kini bicara tentang membawakanku seluruh pohon bunga!”. “Ikutlah Aku!”, kata Krishna. Segera Beliau memanggil Garuda dan membawa Satyabhama naik ke punggungnya. Berdua menuju surga. Krishna kemudian menyerang Indra dan memerangi para dewa, mengalahkan mereka semua. Beliau mencabut pohon parijata dan menanamnya di halaman istana Satyabhama.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 18, 2011 pada 2:35 am (Uncategorized)

Siapakah Sri Uddhavaji? Dalam Srimad Bhagavatam (10.46.1) Srila Sukadeva Gosvami berkata, ”Uddhava yang amat sangat cerdik dan pandai adalah penasehat terbaik dinasti Vrishni, beliau adalah seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Sri Krishna dan adalah siswa langsung dari Brihaspati, guru para dewa di alam surga”. Krishna Sendiri juga memberitahu Uddhava, “Uddhava, engkaulah yang paling Kukasihi. Brahma dan putra-Ku, Shankara yang tiada berbeda dengan Diri-Ku, Sankarsana saudara-Ku, dewi keberuntungan Sri Laksmi, dan bahkan hidup-Ku Sendiri tidaklah lebih Kukasihi dibanding dirimu. Engkau begitu dekat dengan-Ku”. Krishna juga mengumandangkan, “Janganlah berpikir sedikitpun bahwa Uddhava lebih rendah dari Diri-Ku, Dia sebaik Diri-Ku, dan terkadang bahkan dia lebih agung dari Aku.” Betapa mulia Sri Uddhava. Penyembah yang demikian dicintai oleh Tuhan. Bahkan terkadang Tuhan menempatkannya begitu tinggi, memuliakannya lebih dari Diri-Nya.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 5, 2011 pada 6:42 am (Uncategorized)
Untuk memahami tujuan tertinggi pengetahuan (sadhya) dan cara untuk mencapai tujuan itu (sadhana), Sri Tapana Misra bertanya kepada Tuhan Caitanyacandra sebagai berikut, Sang Brahmana berkata, ‘ami ati dina-hina jana’. Hamba adalah orang papa yang rendah dan hina. Mohon bebaskanlah hamba dari keberadaan duniawi ini dengan lirikan-Mu yang penuh karunia. Hamba tidak mengetahui tujuan dari kehidupan maupun cara untuk mencapainya, mohon jelaskanlah hal ini kepada hamba. Hamba tak menemukan kenikmatan apapun dalam pemuasan indria duniawi. Oleh karenanya He Doya moy, O Tuhan Yang Mahamurah-hati, bagaimanakah cara hamba memperoleh kelegaan?” Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 3, 2011 pada 4:47 pm (Uncategorized)

Telapak tangan Sri Caitanya Mahaprabhu
Ketika Rsi yang mulia itu Sri Naradamuni kembali ke bumi, dia melihat suatu kemunduran dalam kegiatan keagamaan orang-orang. Umat manusia telah meninggalkan kedermawanan, pengendalian diri dan pertapaan. Mengabaikan segala perbuatan-perbuatan saleh, manusia menggunakan tubuh, ucapan dan pikirannya hanya untuk memikirkan istri-istri mereka. Pria sepenuhnya tergila-tergila pada wanita dan pemuasan indria. Tak seorangpun yang peduli sedikitpun pada yoga dan keinsafan diri. Melihat tanda-tanda ini yakinlah Narada bahwa selama kunjungannya ke Brahmaloka, Kali sudah tiba dan meluaskan pengaruhnya di bumi. Sungguh gundah hatinya, Naradapun kemudian duduk dan mulai bermeditasi. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 1, 2011 pada 4:08 pm (Uncategorized)

Dinyatakan bahwa bahkan Krishna sekalipun jatuh hati kepada ketampanan-Nya Sendiri, apalagi orang lain. Ini selanjutnya adalah merupakan karakteristik yang sangat mencengangkan dari Gaura-lila. Kejadian yang menakjubkan ini, yaitu takjubnya Tuhan, akan Diri-Nya yang Mahamenakjubkan, merupakan akar dari kehadiran Sri Caitanya yang juga sungguh menakjubkan. Sri Caitanya adalah akar dari puncak manisnya kasih, pengejawantahan tertinggi cinta Tuhan di dunia yang tiada terkira menakjubkannya. Rupa Gosvami mengetahuinya karena beliau adalah Rupa Manjari, yang adalah saksi permainan sukacita Tuhan Sri Krishna yang paling rahasia dan paling menakjubkan. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Agustus 27, 2011 pada 3:47 pm (Uncategorized)

Pada awal abad ke-20 tokoh rohaniwan besar sekaligus penulis produktif dari Bengala, Sri Thakura Bhaktivinoda, juga menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam perkembangan kekayaan pustaka Hindu. Beliau hidup sejaman dengan para pendiri Brahmo-samaj dan teman baik keluarga Tagore. Berbeda dengan sastrawan Rabindranath Tagore yang lebih memilih penampilan populer, Thakura Bhaktivinoda memilih memasuki inti masyarakat Veda yang lebih ortodoks dan menjadi pewaris dari garis perguruan tradisional Goudiya. Thakura Bhaktivinoda, sekalipun memelihara penyampaian ajaran Veda dalam kalangan konservatif, namun beliau berhasil merintis dibagikannya ajaran-ajaran esoterik Veda bagi dunia internasional, yang sebelumnya hanya terbatas dalam lingkungan masyarakat tertentu. Beliau adalah Acharya Goudiya pertama yang menyampaikan ajaran Veda dalam tulisan-tulisan berbahasa Inggris.
Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Agustus 26, 2011 pada 3:09 pm (Uncategorized)
Tags: ajaran, goudiya
Tahun 1930-an di Kolkata pernah ada penerbitan sebuah harian rohani bernama Nadiya-prakasa yang diprakarsai oleh Sri Bhaktisiddhanta Sarasvati. Seorang tokoh politik di masa itu meragukan kemampuan beliau menerbitkannya. Masalahnya apakah tidak bakal kekurangan bahan? Tetapi Srila Siddhanta Sarasvati berkata bahwa Kolkata hanya satu kota di bumi yang begitu luas, toh tetap saja ada surat kabar yang bisa terbit setiap hari. Sedangkan Veda, adalah pengetahuan dari dunia rohani yang tak terbatas. Bila saja ada cukup sumber daya, maka jangankan hanya harian, masing-masing kota di bumi bisa menerbitkan surat kabar dari dunia rohani, pembahasan Veda-dharma ini, setiap detik. Jadi bisa kita bayangkan betapa banyak, luas, dan dalamnya pengetahuan yang ada dalam Veda. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Agustus 25, 2011 pada 8:12 am (Uncategorized)
Tags: caitanya, cinta, dharma, goudiya, jalan, kaliyuga, Mahaprabhu
Mengapa kita berbicara sekian banyak tentang cinta dalam bacaan ini? Ada apa dengan cinta? Mengapa kata itu selalu diulang-ulang? Seorang penyair Vaishnava, Sri Candidasa berkata, “piriti baliya e tina akhara, e tina bhuvana-sara. Pi-ri-ti (cinta) terdiri dari tiga suku kata, ketiganya adalah intisari tiga dunia. Sekali dia masuk dalam pikiranku dia akan tetap di sana siang dan malam, ei more mane hoy rati-dine, dan aku tak dapat memikirkan yang lain lagi, iha vahi nahi ara”. Bhaktivinode Thakur berkata, “Tujuan hakiki umat manusia adalah untuk mencintai. Demi cinta, manusia sanggup mengorbankan apapun. Semua mahluk dikendalikan oleh cinta”. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Februari 10, 2010 pada 4:17 am (Uncategorized)

Mengapa Mahaprabhu merasakan ini dalam kebersamaan-Nya dengan Jagannath? Bagaimana mungkin tanah suci yang menganugerahkan pembebasan seketika dalam satu kehidupan, yang menjadi tujuan perziarahan semua orang, menjadi tempat yang penuh kesedihan dan dibanjiri airmata? Seharusnya semua orang yang datang kepada Jagannath tidak akan pernah menangis lagi, karena segala duka-citanya akan dihapuskan. Mengapa Mahaprabhu justru tinggal di sini untuk menangis penuh kesedihan? Kita harus mengetahui siapakah sesungguhnya Sri Caitanya Mahaprabhu dan Jagannath. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
Desember 7, 2009 pada 2:55 am (Uncategorized)
Tags: kerinduan, perpisahan, radha, viraha
Nyanyian kerinduan ini mengungkapkan perasaan Srimati Radharani. Perasaan yang sama yang dirasakan oleh Mahaprabhu di Jagannath Puri.
“Oh Krishnacandra, kini Engkau tinggal begitu jauh di kota besar Madhupuri Mathura. Tapi bagaimanakah keadaan desa sederhana Vrindavan yang telah Engkau tinggalkan? Semua Vrajavasi merasakan sakit yang amat sangat dan duka cita yang dalam karena berpisah dengan Diri-Mu. Mereka berseru-seru, “Kanu! Kanu! Kanu!”, tapi tak ada jawaban, hanyalah gemanya yang terdengar. “Kanu! Kanu di manakah Engkau? Bahkan burung-burung pun memanggil-manggil Kanu! Kanu!”. Di mana-mana setiap orang menangis dan meratap. O Yasomati-nandana, Lihatlah ayah ibu-Mu, Yasoda-maiya dan Nanda Baba tersedu-sedu. Matanya bagaikan telah buta, mereka kini tak dapat melihat lagi, dan hanya duduk menangis. Mereka sudah tak punya tenaga, tinggal kulit membalut tulang. Mereka hampir mati tanpa makan apapun, karena Yasoda-maiya sudah tak pernah memasak lagi. Untuk siapakah kini mereka harus memasak? Engkau sudah tak ada di sini. Mereka bahkan tak punya tenaga lagi untuk berdiri”. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
« Entri lama