Jalan Goudiya, Diawali dan Diakhiri Dengan Cinta

Mengapa kita berbicara sekian banyak tentang cinta dalam bacaan ini? Ada apa dengan cinta? Mengapa kata itu selalu diulang-ulang? Seorang penyair Vaishnava, Sri Candidasa berkata, “piriti baliya e tina akhara, e tina bhuvana-sara. Pi-ri-ti (cinta) terdiri dari tiga suku kata, ketiganya adalah intisari tiga dunia. Sekali dia masuk dalam pikiranku dia akan tetap di sana siang dan malam, ei more mane hoy rati-dine, dan aku tak dapat memikirkan yang lain lagi, iha vahi nahi ara”. Bhaktivinode Thakur berkata, “Tujuan hakiki umat manusia adalah untuk mencintai. Demi cinta, manusia sanggup mengorbankan apapun. Semua mahluk dikendalikan oleh cinta”.

Lalu cinta macam apa yang pantas untuk terus dibicarakan? Tentu bukan yang berakhir oleh maut. Hanya cinta sejati yang kekal, yang pantas dibicarakan. Cinta itu tentu memiliki tiga unsur yaitu: Pribadi Yang Dicintai (pritira-visaya), Pribadi Yang Mencintai (pritira-asraya), tempat kediaman cinta, dan cinta itu sendiri (priti). Satu-satunya pritira-visaya haruslah kekal dan sejati, agar priti itu juga priti yang kekal dan sejati. Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna adalah pritira-visaya. Orang yang tidak mencintai Krishna tidak dapat mencintai apapun. Krishna adalah satu-satunya pusat cintakasih. Pribadi yang mencintai Krishna adalah tempat kediaman cinta sejati, pritira-asraya sejati. Jadi tiga inilah topik pembicaraan kita. Prema-rajyera katha, kisah-kisah dari Kerajaan Cinta adalah mengenai tiga ini. Inilah yang dibahas secara panjang lebar oleh Veda dan inilah kesimpulan semua kitab suci Veda.

Mengucapkan nama suci dan melayani para Vaishnava, yaitu mereka yang telah sempurna dalam cintanya kepada Tuhan, adalah satu-satunya obat bagi para mahluk hidup yang diombang-ambingkan oleh Kaliyuga. Karena gigitan ular samsara, kelahiran dan kematian berulangkali, semua mahluk menjadi hilang kesadaran. Maka inilah ausadham, citta–samskara ausadham, obat yang memurnikan kembali pikiran dan hati mereka.

Ketika Acarya Sri Haridasa Thakur memandang keadaan dunia, beliau menghela nafas dalam-dalam. Beliau melihat visayete magna jagat, dunia yang dipenuhi oleh keterikatan indria. Seperti wabah, semua orang terkena penyakit keduniawian dan menjadi visaya vista-murkha, makhluk-makhluk bodoh yang terserap sepenuhnya dalam kesibukan duniawi.

Bagi mereka adalah sangat diperlukan suatu obat yang mampu mengeluarkan seluruh racun samsara dari tubuh, pikiran dan hatinya, sehingga mereka dapat menikmati kebahagiaan sejati. Sarvabhauma Bhattacharya dalam Caitanya Sataka telah menuliskan resep obat itu. Bhagavat-nama, nama suci Tuhan, srimad vaishnava sevanam–melayani para Vaishnava, visrambhena guroh seva–melayani Sri Guru dengan penuh keyakinan, dan vaisnavocchista-bhojana–menikmati sisa makanan para Vaishnava.

Para Vaishnava begitu agung dan mulia. Mereka menerima karunia Tuhan Caitanya Mahaprabhu. Demi melihat keadaan roh-roh yang jatuh yang sepenuhnya terikat dalam lingkaran kelahiran dan kematian, para Vaishnava berbelas kasih dengan membagikan nama suci Tuhan kepada mereka.

Semua penyembah Sri Krishna Caitanya adalah mahatma-mahatma yang agung. Mereka adalah perwujudan dari kebahagiaan sankirtana dan mereka sebaik Krishna Sendiri. Mereka menyelamatkan para jiva yang telah jatuh dan terbakar oleh api derita, dengan memberikan cinta kasih Tuhan. Sifat-sifat mulia para Vaishnava yang adalah penyembah agung Sri Caitanya, amatlah manis. Para Vaishnava itu tidaklah pernah ternoda oleh kesalahan insan-insan rendah yang berlumuran lumpur dosa.

Segala sesuatu tentang para Vaishnava ini adalah begitu indah dan menawan. Kelahiran, kegiatan, sifat-sifat, ajaran dan kemuliaannya sepenuhnya sempurna dan rohani. Atas perintah Sri Krishna Caitanya mereka berkeliling untuk membebaskan mahluk-mahluk yang terikat oleh keburukan Kali, dengan membagikan amrita nama suci kepada setiap orang, setiap rumah, di pelosok desa dan kota, di seluruh penjuru dunia.

Mereka yang mengenal Tuhan Caitanya hendaknya mengucapkan nama suci Hari dan melayani para Vaishnava yang sangat dicintai oleh Sri Caitanya. Hanya dengan cara demikian kaki padma Tuhan Sri Hari dapat dicapai. Di dalam mahamantra yang terbentuk dari rangkaian enambelas Nama Suci,

HARE KRISHNA HARE KRISHNA
KRISHNA KRISHNA HARE HARE
HARE RAMA HARE RAMA
RAMA RAMA HARE HARE
terkandung segala-galanya. Inilah segala-galanya!

Mereka yang pada jaman Kali ini mendengarkan mata pelajaran tentang sri guru tattva (kebenaran sejati tentang sang guru kerohanian), mengucapkan nama suci Sri Hari dengan penuh perhatian, memuja Guru dan para sadhu, hanya mereka yang dipastikan akan mencapai kaki padma Tuhan. Sri Gaurachandra Caitanya Mahaprabhu telah turun ke dunia untuk menundukkan semua orang yang menentang sampradaya-sampradaya terpercaya. Beliau membagikan nama suci yang adalah intisari Veda-Veda, dan mengajarkan kemuliaan nama suci beserta kemuliaan para Vaishnava.

Oleh karena itu kita hanya ingin disibukkan dalam membicarakan kemuliaan Tuhan, nama suci, kegiatan rohani, dan para penyembah-Nya, dan berharap semoga segala dukacita dunia akan berakhir. Karena topik-topik seperti itulah yang benar-benar menjadi obat penawar bagi bisa ular samsara. Kita tidak ingin menjadi pemikir atau cendikiawan yang mengukur kebijaksanaan dengan logika, dan berpikir bahwa spekulasi logis adalah satu-satunya kitab suci, pramana yang tak terbantah. Tetapi kita hanya ingin bersukacita selamanya ketika menikmati kisah-kisah menakjubkan dan khusuk sepenuhnya dalam pemujian Tuhan serta para penyembah-Nya.
Kita sungguh-sungguh berniat untuk berlindung pada kaki padma Sri Gaurasundara (Sri Caitanya), Putra Ibunda Saci, dan dengan sepenuh hati berdoa kepada para penyembah-Nya, “O Vaishnava, wahai Tuan bagi kehidupan kami! Mohon berkarunialah pada jiwa malang yang menderita ini. Buatlah kami pantas untuk mencapai tujuan yang senantiasa didambakan, semoga pikiran kami terpusat pada kaki padma Sri Gaurasundara tanpa gangguan.”
Dalam semangat seperti ini para Goudiya Vaishnava senantiasa berusaha melayani seluruh dunia, semua makhluk dengan mengingatkan mereka bahwa betapa cinta yang begitu luhur dan agung menantikannya untuk segera datang dan kemudian segera turut menyelami samudera madu cintakasih yang begitu nikmat, yang airnya memancar dari Hati Tuhan Sendiri, Sang Kekasih Tertinggi. Hanya demi menyampaikan hal inilah kami mempersembahkan tulisan ini ke hadapan para pembaca. Inilah sebuah agama, sebuah jalan, sebuah Dharma agung yang diawali dengan cinta dan diakhiri pula dengan cinta. Inilah kehidupan Goudiya Vaishnava, yang diawali oleh cinta dan diakhiri pula dengan cinta.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.