
Pada awal abad ke-20 tokoh rohaniwan besar sekaligus penulis produktif dari Bengala, Sri Thakura Bhaktivinoda, juga menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam perkembangan kekayaan pustaka Hindu. Beliau hidup sejaman dengan para pendiri Brahmo-samaj dan teman baik keluarga Tagore. Berbeda dengan sastrawan Rabindranath Tagore yang lebih memilih penampilan populer, Thakura Bhaktivinoda memilih memasuki inti masyarakat Veda yang lebih ortodoks dan menjadi pewaris dari garis perguruan tradisional Goudiya. Thakura Bhaktivinoda, sekalipun memelihara penyampaian ajaran Veda dalam kalangan konservatif, namun beliau berhasil merintis dibagikannya ajaran-ajaran esoterik Veda bagi dunia internasional, yang sebelumnya hanya terbatas dalam lingkungan masyarakat tertentu. Beliau adalah Acharya Goudiya pertama yang menyampaikan ajaran Veda dalam tulisan-tulisan berbahasa Inggris.
Srila Thakura Bhaktivinoda juga menulis dalam karyanya yang berjudul Amnaya-sutra, “Seorang yang bernama Bhaktivinoda, dengan bersujud pada guru semesta Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu, atas pemberkatan para hamba Tuhan dan perintah roh-roh yang agung, menyusun 130 sutra ini yang menguraikan kesimpulan akhir semua Veda-veda. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengkaji delapan pramana, enam lingam, dan makna langsung serta tidak langsung semua kata-kata shabda. Semoga semua hamba-hamba Tuhan, yang berlindung pada kaki padma Bhagavan Sri Caitanya mempelajari sutra-sutra ini.”
Semua orang yang serius dalam menempuh hidup rohani dalam jalan Veda mengetahui bahwa Sri Caitanya adalah teladan sempurna bagi mereka yang mendalami Bhaktiyoga. Seorang Acharya dan penulis seperti Srila Bhaktivinoda menginginkan agar semua orang yang mendalami Bhaktiyoga di bawah bimbingan ajaran Sri Caitanya dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sutra karya beliau itu. Ini adalah intensi dari sang penulis. Lalu Sang Thakura juga mempermudah kita dengan terlebih dahulu mempelajari begitu banyak aspek Veda kemudian menyimpulkannya untuk mendukung pelaksanaan bhakti kita. Selain itu beliau menulis buku bukan atas dasar keinginan sendiri saja atau untuk mendapat jasa dari usahanya itu, melainkan atas perintah begitu banyak orang suci yang hidup pada masanya. Penulisan buku itu sendiri juga memperoleh pemberkatan dari masyarakat para santa atau sadhu, yang tentu juga selalu mengharapkan kesejahteraan rohani semua orang. Jadi bagi mereka yang juga ingin benar-benar membina diri dalam Bhaktiyoga, kitab-kitab yang disusun oleh para penulis seperti Sri Jiva Goswamipada, Sri Madhvacharya, dan Srila Thakura Bhaktivinoda, adalah merupakan bacaan wajib.

Khususnya bagi Goudiya Vaishnava, teladan yang paling mulia dan sempurna dari para suddha bhakta adalah para gopi di Vrindavan. Mereka tidaklah tertarik untuk mengerti tentang roh, Brahman, maupun tentang Krishna sekalipun. Apakah Krishna Tuhan, apakah Krishna Mahakuasa, atau bagaimanakah Krishna mengatur seluruh manifestasi alam semesta ini. Mereka hanyalah tertarik untuk mencintai Krishna. Cintakasih yang demikian itu adalah tingkatan pelayanan pengabdian suci yang paling murni. Dalam cinta itu mereka hanyalah memikirkan keinginan dan kepuasan Krishna, tidaklah pernah memikirkan keinginan, kesenangan dan kebahagiaan mereka sendiri. Kebahagiaan bagi mereka adalah bila Krishna berbahagia. Sampai seseorang meningkat sampai bhakti yang murni ini maka akan selalu ada kecenderungan menginginkan pencapaian kedudukan duniawi yang lebih tinggi.
Selama ini kita memahami spiritualisme sebagai semacam cara untuk mendapatkan kelepasan dari derita dan dukacita. Kita juga memahaminya sebagai jalan untuk menembusi rahasia Tuhan yang misterius dan memperoleh kekuatan mistis. Tapi semua ini adalah keinginan-keinginan duniawi yang tidak berkaitan sama sekali dengan spiritualisme, jalan rohani sejati.
Berkat karunia Tuhan Sri Caitanya Mahaprabhu dan garis parampara Goudiya-Nya kita dapat membuka mata terhadap kenyataan sesungguhnya dari kerohanian. Kita dapat melihat teladan agung para gopi di Vrindavan. Kita menjunjung teladan cintakasih mereka sebagai pembimbing dan aspirasi tertinggi kita. Kita menerima debu dari kaki padma mereka sebagai tujuan dari segala pendakian rohani kita, khususnya kaki padma Sri Rupa Gosvami, yang tiada berbeda dari Sri Rupa Manjari, hamba terkasih Mahaprabhu, Sri Sri Radha Krishna Sendiri yang menunggal menjadi satu. Jalan Goudiya kita adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sri Rupa, Rupanuga, dan juga oleh para Acarya yang setia kepada teladan agung beliau seperti Srila Cakravarthipad, Srila Bhaktivinod Thakura, Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati, dan Srila AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada.
Seorang aspiran dalam Goudiya Vaishnava menerima pengertian kerohanian dengan cara seperti ini, bukan yang lain. Adalah berkat kemurahan hati Srila Prabhupada banyak dari kita dapat memasuki jalan yang mulia ini sekalipun diawali dengan bermacam-macam keinginan dan tujuan. Namun karena jalan Kesadaran Krishna yang sesungguhnya adalah jalan bhakti yang murni, maka bila sedari mula kita berusaha menempatkan minat kita dalam aspirasi yang sejati, maka secara bertahap Kesadaran Krishna yang murni akan terwujud dalam diri. Ciri dari Kesadaran Krishna ini adalah dia tidak akan lagi tertarik pada segala jenis kemajuan dalam hidup duniawi. Dia hanyalah tertarik untuk memberikan kebahagiaan kepada Tuhan Sri Krishna didasari oleh cintakasih yang murni, sebagaimana diteladankan oleh para Acarya Goudiya kita, dan tentu saja oleh para gopi di Vrindavan.


