
Telapak tangan Sri Caitanya Mahaprabhu
Ketika Rsi yang mulia itu Sri Naradamuni kembali ke bumi, dia melihat suatu kemunduran dalam kegiatan keagamaan orang-orang. Umat manusia telah meninggalkan kedermawanan, pengendalian diri dan pertapaan. Mengabaikan segala perbuatan-perbuatan saleh, manusia menggunakan tubuh, ucapan dan pikirannya hanya untuk memikirkan istri-istri mereka. Pria sepenuhnya tergila-tergila pada wanita dan pemuasan indria. Tak seorangpun yang peduli sedikitpun pada yoga dan keinsafan diri. Melihat tanda-tanda ini yakinlah Narada bahwa selama kunjungannya ke Brahmaloka, Kali sudah tiba dan meluaskan pengaruhnya di bumi. Sungguh gundah hatinya, Naradapun kemudian duduk dan mulai bermeditasi.
Tiba-tiba terdengarlah gema suara illahi di angkasa, “Aku Tuhan Jagannath, Tuhan Alam Semesta, dan Aku telah hadir sebagai daru brahman (Kebenaran Mutlak dalam sebatang kayu), Aku bersemayam di Nilacala, di tepi samudera, demi keselamatan dan pembebasan semua roh-roh yang telah jatuh ke dalam samsara. Sudahkah engkau lupakan kejadian dimasa lampau? Untuk memenuhi janji Katyayani Devi (Devi Durga, Ibu Alam Semesta ), Aku telah turun membagikan maha-prasada-Ku bagi semua orang. Kini, O yang terbaik diantara para Rsi. Datanglah menghadap ke Nilacala (Jagannath Puri), untuk mematuhi perintahKu ! ”
Terharu oleh gelora cinta rohani, Narada berseru, “O Jagannath!”. Sambil memainkan senar vina-nya, Narada segera bergegas pergi ke Nilacala. Begitu memasuki Kuil Agung, dia melihat wajah Tuhan Jagannath yang bulat lebar. Wajah-Nya lebih menye-jukkan, kemilauan, dan indah melebihi jutaan bulan.
Narada melihat Tuhan Jagannath sebagai Pribadi Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, sumber dari segala avatara. Tuhan dipenuhi kebahagiaan tiada tara dan senyum-Nya begitu cemerlang. Kini Dia telah hadir dalam Rupa-Nya yang paling berkarunia sebagai Arca junjungan mulia.
Narada rebah, menjatuhkan diri di kaki padma Jagannath seraya berkata, ”Tuhan Jagannath, Kali sudah tiba. Curahkanlah karunia-Mu. Umat manusia kebingungan, sungguh terpuruk, dan penuh ratap derita. Di bawah kendali indria-indrianya mereka sibuk melakukan perbuatan-perbuatan berdosa yang menjijikkan ”.
Tuhan Jagannath tersenyum, menyentuh tangan Narada, kemudian bersabda, ”Narada, sekarang engkau harus pergi ke Goloka, kediaman rohani tertinggi. Sri Gaurasundara bersemayam di sana. Laksmi dan para devi lainnya sedang memuja Tuhan Sri Hari dengan penuh cinta. Dialah satu-satunya penikmat. Radha dan Rukmini adalah Ratu utamanya. Bersama berbagai ekspansi-Nya yang tak terbatas melayani Tuhan seperti itu.
Empat jenis pembebasan dianugerahkan oleh Sang Penguasa Vaikuntha, Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Bahkan insan-insan yang paling rendah, jatuh dan hina sekalipun, yang hidup di alam duniawi ini akan mencapai pembebasan dengan melaksanakan pengabdian suci. Akan tetapi walau demikian, hanyalah bhakti yang murni sajalah yang dapat mengendalikan Sang Penguasa Tertinggi.
Bagaikan gula tak mampu menikmati rasa manisnya sendiri, tetapi membantu yang lain untuk merasakan kenikmatan dan rasanya, begitu pula hanya dengan bantuan bhakti, pembebasan secara langsung akan dicapai. Pembebasan membendung aliran alami dari pengabdian cinta kasih yang murni. Oleh karena itu ketahuilah olehmu, bahwa prema-bhakti-yoga sesungguhnya jauh melampaui empat jenis pembebasan.
Tuhan Yang Mahakuasa, Raja Goloka akan datang ke Puri sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu demi membagi-bagikan karunia-Nya. Sebagai Tuhan di atas segala tuhan, Dia akan memiliki tubuh yang tinggi keemasan. Dengan membagikan kasih karunia-Nya secara bebas Dia akan menghapus derita setiap orang. Dia akan mengajar, memuji, dan memuliakan nama suci. Dia akan menyebarkan kebahagiaan Krishna-prema yang murni untuk membebaskan semua orang pada Kali-yuga. Kini pergilah temui Dia dan segala kesusahanmu akan reda”.
Setelah mendengar semua ini dari Tuhan Jagannath, Narada Muni meninggalkan Puri untuk kemudian pergi ke Vaikuntha. Dalam perjalanan Narada berpikir, ”Aku telah mendengar pokok-pokok bahasan rahasia dalam Srimad Bhagavatam tentang mukti dan bhakti. Aku juga telah mendengarkan tentang tempat itu, yang tak diketahui, tak terwujud di dunia ini dan berada di balik pengetahuan Veda-veda. Hari ini aku akan melihat tempat itu dengan mata kepalaku sendiri.

Dalam Caitanya Caritamrta ada disebutkan. ”Tiada beda antara Jagannath dan Krishna Sendiri, namun di Puri, Jagannath tetap berdiam di satu tempat sebagai Yang Tak Terbatas hadir dalam sebatang kayu, tak bergerak. Jagannath dan Mahaprabhu Sri Caitanyadeva, walau tampak terpisah, sesungguhnya adalah satu karena Beliau adalah satu Krishna Yang Tunggal, dalam dua wujud. Keinginan untuk menyelamatkan dunia berkobar-kobar dalam Hati Suci Kedua-Nya. Demi menyelamatkan semua orang, Krishna telah turun sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu. Dengan melihat Jagannath, seseorang akan dibebaskan dari ikatan keberadaan duniawi. Namun tak semua orang dapat diijinkan memasuki kuil agung-Nya di Jagannath Puri. Berbeda dengan Caitanya Mahaprabhu, Beliau bergerak dari negeri ke negeri, secara Pribadi maupun melalui pengantara dan wakil-wakil-Nya. Dengan cara ini Beliau menyelamatkan seluruh dunia.”
Pada zaman Kali ketika orang-orang berpaling dari Tuhan, menolak-Nya, memandang rendah kepada-Nya dan tidak mempunyai waktu untuk-Nya. Maka Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna datang sebagai Jagannath dan bersemayam di Puri. Hanya dengan melihat-Nya saja seseorang akan segera mencapai pembebasan. Walau demikian tidak semua orang mau yakin dan datang kepada-Nya. Tidak semua orang memiliki keberuntungan dapat memandang Jagannath, tidak memiliki iman dan justru menganggap-Nya sebatang kayu tak berjiwa.
Betapa besar kasih Tuhan kepada semua makhluk. Sekalipun mereka menolak-Nya, dia justru memilih untuk turun dari Kediaman Penuh Kebahagiaan-Nya, keluar dari tembok kuil-Nya dan menemui mereka. Itulah Sri Caitanya Mahaprabhu. Dengan kaki padma-Nya Dia berjalan ke seluruh penjuru negeri, mengulurkan keselamatan dan cinta-Nya dengan tangan-Nya Sendiri. Tidak puas sampai di sana saja. Mahaprabhu mengirim utusan-utusan, pengantara-pengantara, dan wakil-wakil-Nya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia, mengetuk setiap pintu, menjamah setiap hati. Tuhan telah berkenan datang dan kini menanti kita untuk datang ke dalam pelukan cinta-Nya.


