
Siapakah Sri Uddhavaji? Dalam Srimad Bhagavatam (10.46.1) Srila Sukadeva Gosvami berkata, ”Uddhava yang amat sangat cerdik dan pandai adalah penasehat terbaik dinasti Vrishni, beliau adalah seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Sri Krishna dan adalah siswa langsung dari Brihaspati, guru para dewa di alam surga”. Krishna Sendiri juga memberitahu Uddhava, “Uddhava, engkaulah yang paling Kukasihi. Brahma dan putra-Ku, Shankara yang tiada berbeda dengan Diri-Ku, Sankarsana saudara-Ku, dewi keberuntungan Sri Laksmi, dan bahkan hidup-Ku Sendiri tidaklah lebih Kukasihi dibanding dirimu. Engkau begitu dekat dengan-Ku”. Krishna juga mengumandangkan, “Janganlah berpikir sedikitpun bahwa Uddhava lebih rendah dari Diri-Ku, Dia sebaik Diri-Ku, dan terkadang bahkan dia lebih agung dari Aku.” Betapa mulia Sri Uddhava. Penyembah yang demikian dicintai oleh Tuhan. Bahkan terkadang Tuhan menempatkannya begitu tinggi, memuliakannya lebih dari Diri-Nya.
Suatu ketika Sri Narada Rishi mengunjungi Dvaraka untuk menemui Uddhava. Sang Rishi memuji Uddhava, yang kemudian menjawab Narada sebagai berikut, ”Janganlah berkata demikian tentang diriku. Saya mengetahui bahwa sungguh benar saya adalah seorang penyembah Krishna yang sangat luhur tingkatannya, demikian pula para ratu Krishna juga sangat dicintai-Nya. Ingatkah engkau bahwa Krishna suatu ketika memberikan sekuntum bunga parijata kepada Rukmini, dan Beliau juga mencuri seluruh pohon parijata dari surga serta menanamnya di halaman ratu Satyabhama?”
Uddhava mengenang peristiwa itu. Suatu ketika Krishna tengah duduk bersama para ratu-Nya di Dvaraka. Seluruh 16.108 ratu hadir, termasuk Rukmini dan Satyabhama. Narada kemudian tiba di sana membawa sekuntum bunga parijata yang dipetiknya dari surga dan berkata kepada Krishna, “Mohon terimalah bunga ini dan berikanlah dia kepada ratu-Mu yang paling Engkau sukai”. Krishna berpikir, ”Narada lihai sekali, dia ingin membuat-Ku serba salah. Bila Aku memberikan bunga ini pada Rukmini, maka Satyabhama dan ratu-ratu yang lain akan marah . Aku akan susah sekali menenangkan mereka. Tapi bila Kuberikan pada Satyabhama, Rukmini tentu juga akan cemburu”.

Sri Krishna dan Rukmini - Satyabhama
Narada tiba-tiba memecahkan keheningan Krishna yang tengah berpikir, “Cepatlah. Saya masih punya urusan mendesak yang harus dijalankan. Tolong segera berikan bunga itu pada salah satu ratu semasih saya ada di sini dan belum pergi.” Karena desakan Narada, Krishna kemudian mengmbil bunga itu, memejamkan mata-Nya, dan memberikan pada Rukmini. Krishna berpikir bila sambil menutup mata, ratu-ratu lain tidak akan bisa berkata bahwa Beliau memberikannya dengan penuh perasaan.
Seketika itu, dengan menghela napas berat seperti seekor ular, Satyabhama berlari ke istananya. Dia melepaskan pakaian indah dan perhiasannya, kemudian mengenakan kain tua, lusuh dan compang-camping. Sambil menangis dia memasuki kop-bhavan-nya, ”kamar amarah”. Para raja biasanya membangun “kamar amarah” bagi para ratunya. Bila seorang ratu berdiam di sana, sang raja tahu bahwa dia harus segera merayu dan menenangkannya. Kini Satyabhama pergi ke kop-bhavan-nya dan mulai menangis keras-keras. Para dayang-dayangnya yang banyak kemudian berusaha menenangkan dengan sedemikian rupa sehingga Krishna akan tahu bahwa Dia telah berbuat salah.
- bersambung -


