<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Prem Modhuri</title>
	<atom:link href="http://premodhuri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://premodhuri.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Sep 2011 04:27:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='premodhuri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Prem Modhuri</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://premodhuri.wordpress.com/osd.xml" title="Prem Modhuri" />
	<atom:link rel='hub' href='http://premodhuri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ratapan Uddhava 2</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/20/ratapan-uddhava-2/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/20/ratapan-uddhava-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 03:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Krishna mendekati Satyabhama dan dengan lembut menyentuhnya, tapi dia menepis tangan-Nya. “Pergilah Engkau !”, dia berkata dengan pedas. “Pergilah pada ratu kesayangan-Mu. Engkau pendusta. Engkau telah mempermalukan dan mengejekku di depan semua orang”. Krishna berkata, “Dengarlah, Aku hanya memberikan satu kuntum bunga pada Rukmini, engkau sudah begitu kecewa. Aku akan membawa seluruh bunga parijata dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=137&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 242px"><img class=" " src="http://www.glimpseofkrishna.com/images/garuda.jpg" alt="" width="232" height="315" /><p class="wp-caption-text">Krishna menyerang surga demi Satyabhama</p></div>
<p>Krishna mendekati Satyabhama dan dengan lembut menyentuhnya, tapi dia menepis tangan-Nya. “Pergilah Engkau !”, dia berkata dengan pedas. “Pergilah pada ratu kesayangan-Mu. Engkau pendusta. Engkau telah mempermalukan dan mengejekku di depan semua orang”. Krishna berkata, “Dengarlah, Aku hanya memberikan satu kuntum bunga pada Rukmini, engkau sudah begitu kecewa. Aku akan membawa seluruh bunga parijata dari surga dan menanamnya di halaman istanamu.” Satyabhama menjawab, “Engkau tidak bisa memberiku sekuntum bunga, kini bicara tentang membawakanku seluruh pohon bunga!”. “Ikutlah Aku!”, kata Krishna. Segera Beliau memanggil Garuda dan membawa Satyabhama naik ke punggungnya. Berdua menuju surga. Krishna kemudian menyerang Indra dan memerangi para dewa, mengalahkan mereka semua. Beliau mencabut pohon parijata dan menanamnya di halaman istana Satyabhama.</p>
<p><span id="more-137"></span></p>
<p>Uddhava kemudian berkata lagi kepada Narada Rishi, “Setelah menaklukkan para dewa, Krishna juga membawa Sudharma-sabha dengan paksa. Aula pertemuan di surga yang sangat termashyur itu. Beliau mengetahui bahwa para dewa memiliki ego palsu sebagai para penguasa alam semesta. Jadi untuk menghancurkan kebanggaan mereka Beliau merampas Sudharma-sabha dan membawanya ke Dvaraka. Lihatlah bagaimana Krishna bahkan melayani para Yadava di Dvaraka. Anda juga tahu bahwa Krishna mentahtakan Ugrasena, ayah Kamsa, sebagai maharaja dan berkata padanya, “Aku hambamu, Berilah Aku perintah dan Aku akan mengumpulkan upeti dari seluruh alam semesta bagimu. Janganlah khawatir.” Demikianlah Krishna pun menjadi bawahannya. Sankarsana, Putra Vasudeva Maharaja dan Rohini, adalah saudara Krishna. Krishna juga memilki sepuluh putra dan satu putri dari masing-masing ratu-Nya. Melalui mereka Beliau juga mendapatkan banyak cucu. Semua ini adalah keluarga sedarah Krishna, svajana-Nya. Walaupun para Pandava sudah seperti saudara, tapi tetap mereka adalah cuma sahabat-sahabat-Nya. Lihatlah betapa agung penduduk Dvaraka, para Yadava.</p>
<p>Uddhava menambahkan , “Kami adalah para penyembah-Nya dari tingkatan yang sangat tinggi dan kami juga sangat dikasihi oleh Krishna. Saya menerima apapun yang dikatakan-Nya. Beliau juga bilang bahwa di antara semuanya saya adalah yang paling dikasihi-Nya, penasehat-Nya, sahabat-Nya dan hamba-Nya. Tapi walau demikian saya masih dirundung ratap tangis”. “Mengapa Anda meratap, oh Uddhava yang mulia?”, tanya Narada. “Saya begitu bangga bahwa saya telah melayani Krishna dengan berbagai cara, dan betapa kedudukan saya di Hati-Nya, tapi segala kebanggaan saya hancur berkeping-keping saat saya pergi ke Vrindavan dan melihat kemuliaan para Gopi. Cinta mereka setinggi langit dan sedalam samudera. Cintanya tak terbatas, tiada terukur oleh diri saya. Bila Anda ingin melihat betapa agung para Vrajavasi, para hamba Tuhan yang termulia, pergilah ke Vrindavan.”</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.vrindavan.de/radhikastaka/uddhava-gopies.jpg" alt="" width="494" height="400" /></p>
<p>Deva Brahma berkata bahwa Krishna adalah Yang Mahakuasa, Tuhan di atas segala tuhan. Tiada tandingan-Nya dan Mahaperkasa. Walau demikian Beliau juga sangat manis. Beliau dapat memusnahkan seluruh alam semesta dalam sekejap dan menciptakannya berjuta kali juga dalam sekejap. Krishna yang sama itu juga ingin melayani para Gopi. Dia adalah sahabat dan putra tercinta bagi semuanya di Vraja Nandagram (S.B.10.14-32). Uddhava sendiri telah berdoa, “Di seluruh dunia ini tanah Gokula adalah yang paling terberkati. Mengapa? Karena para Gopi, yang telah menyempurnakan hidupnya melalui cintakasih mereka yang tiada ternoda kepada Sri Govinda, tinggal di sana. Tanpa mereka Vraja tidak akan menjadi mulia. Sri Govinda yang memelihara seluruh alam semesta, khususnya adalah jiwa dan kehidupan para Vrajavasi, yaitu para gopa, gopi, sapi-sapi dan anak-anaknya. Walaupun Sri Govinda tinggal di Goloka Vrindavan, Beliau juga memelihara dan menghidupi semua makhluk di seluruh bagian alam semesta ciptaan-Nya. Mereka yang takut akan keberadaan duniawi, seperti diriku, para Rishi dan muni, begitu dahaga untuk melayani Sri Krishna, terutama pada saat Beliau berada di antara para Gopi. Kami tidak ingin lahir dalam keluarga Brahmana maupun menjadi Brahma sekalipun”. (S.B.10.47.58)</p>
<p>Uddhava berkeinginan hanya untuk menjadi sehelai rumput di Vrindavan. Dia berkata, “Ketika Krishna berkumpul dengan para Gopi atau ketika para Gopi pergi untuk menemui Krishna, mereka akan menempatkan kakinya dan menginjak rumput itu, yaitu diriku. Dengan demikian hidupku akan sempurna”. (S.B.10.47.61) Bagaimanakah kedudukan para Gopi, cinta serta kasih sayangnya kepada Krishna bila dibandingkan dengan cinta Uddhava? Brahma, Sankara dan semua dewata melaksanakan arcana (pemujaan) pada kaki Laskmi. Laksmi itu pula yang melaksanakan pertapaan untuk dapat melayani Krishna di Vrindavan, namun tak berhasil mendapatkannya. Laksmi ingin memasuki rasa-lila, namun Krishna tak menerimanya. (S.B.10.47.62)</p>
<p><img class="alignright" title="Srimati Radharani" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/09/1353radharani.jpg?w=325&#038;h=590" alt="" width="325" height="590" />Uddhava mulai menangis ketika dia melanjutkan kata-katanya, “ Oh Gopi, hamba ingin menjadi debu di kakimu. Tidak banyak, hanya sebutir debu saja, karena hamba tidak akan mungkin mencerna keberuntungan yang lebih besar dari ini.”(S.B.10.47.63). Ada begitu banyak Gopi yang tak terhitung, tapi dalam hatinya Uddhava telah memilih satu Gopi khusus. Dialah Srimati Radhika. Uddhava hanya menginginkan sebutir debu dari kaki padma-Nya. Uddhava berkata, “O Gopi, Engkau telah menaklukkan Krishna dan menempatkan-Nya di bawah kendali-Mu. Kini Dia sepenuhnya milik-Mu. Hamba tak mampu menyampaikan kepada-Nya apa yang telah Engkau katakan dalam derita perpisahan dengan Diri-Nya. Sepertinya Dia bisa mati bila mendengar semua ini. Hamba tidak memiliki perasaan keterpisahan seperti Diri-Mu, O Gopi, hamba tidak memiliki kerinduan seagung itu. Engkau adalah maha-bhaga, yang paling mujur. Engkau lebih mulia dari diriku. Lebih dari Pandava Yudhistira, Uddhava ini, dan bahkan lebih dari Giriraja Govardhana. Engkau telah mencurahkan begitu banyak karunia bagi hamba, tapi hamba sungguh tak beruntung, karena hamba tak memiliki kepantasan untuk menerimanya.” Demikianlah Uddhava kemudian menangis tersedu-sedu.</p>
<p>Inilah ratapan Uddhava, “Mengapa hamba tidak memiliki kepantasan untuk menerima sebutir debu saja dari kaki padma-Mu,” Uddhava yang dikatakan oleh Krishna sebagai kecintaan-Nya, yang paling dikasihi-Nya. Uddhava yang dikatakan sebaik Diri Krishna Sendiri, yang kepadanya Krishna berkata,”Engkau selalu dekat dengan-Ku”. Uddhava inilah yang meratap dan menangis demi menjadi sehelai rumput di Vraja, hanya untuk memperoleh sebutir debu dari kaki padma Srimati Radharani.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=137&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/20/ratapan-uddhava-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.glimpseofkrishna.com/images/garuda.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.vrindavan.de/radhikastaka/uddhava-gopies.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/09/1353radharani.jpg?w=165" medium="image">
			<media:title type="html">Srimati Radharani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ratapan Uddhava 1</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/18/ratapan-uddhava-1/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/18/ratapan-uddhava-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 02:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah Sri Uddhavaji? Dalam Srimad Bhagavatam (10.46.1) Srila Sukadeva Gosvami berkata, ”Uddhava yang amat sangat cerdik dan pandai adalah penasehat terbaik dinasti Vrishni, beliau adalah seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Sri Krishna dan adalah siswa langsung dari Brihaspati, guru para dewa di alam surga”. Krishna Sendiri juga memberitahu Uddhava, “Uddhava, engkaulah yang paling Kukasihi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=133&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Uddhava and Lord Krishna" src="http://www.krsna-art.com/images/pics/big/KA1_170.jpg" alt="" width="472" height="640" /></p>
<p>Siapakah Sri Uddhavaji? Dalam Srimad Bhagavatam (10.46.1) Srila Sukadeva Gosvami berkata, ”Uddhava yang amat sangat cerdik dan pandai adalah penasehat terbaik dinasti Vrishni, beliau adalah seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Sri Krishna dan adalah siswa langsung dari Brihaspati, guru para dewa di alam surga”. Krishna Sendiri juga memberitahu Uddhava, “Uddhava, engkaulah yang paling Kukasihi. Brahma dan putra-Ku, Shankara yang tiada berbeda dengan Diri-Ku, Sankarsana saudara-Ku, dewi keberuntungan Sri Laksmi, dan bahkan hidup-Ku Sendiri tidaklah lebih Kukasihi dibanding dirimu. Engkau begitu dekat dengan-Ku”. Krishna juga mengumandangkan, “Janganlah berpikir sedikitpun bahwa Uddhava lebih rendah dari Diri-Ku, Dia sebaik Diri-Ku, dan terkadang bahkan dia lebih agung dari Aku.” Betapa mulia Sri Uddhava. Penyembah yang demikian dicintai oleh Tuhan. Bahkan terkadang Tuhan menempatkannya begitu tinggi, memuliakannya lebih dari Diri-Nya.</p>
<p><span id="more-133"></span></p>
<p>Suatu ketika Sri Narada Rishi mengunjungi Dvaraka untuk menemui Uddhava. Sang Rishi memuji Uddhava, yang kemudian menjawab Narada sebagai berikut, ”Janganlah berkata demikian tentang diriku. Saya mengetahui bahwa sungguh benar saya adalah seorang penyembah Krishna yang sangat luhur tingkatannya, demikian pula para ratu Krishna juga sangat dicintai-Nya. Ingatkah engkau bahwa Krishna suatu ketika memberikan sekuntum bunga <em>parijata</em> kepada Rukmini, dan Beliau juga mencuri seluruh pohon <em>parijata</em> dari surga serta menanamnya di halaman ratu Satyabhama?”</p>
<p>Uddhava mengenang peristiwa itu. Suatu ketika Krishna tengah duduk bersama para ratu-Nya di Dvaraka. Seluruh 16.108 ratu hadir, termasuk Rukmini dan Satyabhama. Narada kemudian tiba di sana membawa sekuntum bunga <em>parijata</em> yang dipetiknya dari surga dan berkata kepada Krishna, “Mohon terimalah bunga ini dan berikanlah dia kepada ratu-Mu yang paling Engkau sukai”. Krishna berpikir, ”Narada lihai sekali, dia ingin membuat-Ku serba salah. Bila Aku memberikan bunga ini pada Rukmini, maka Satyabhama dan ratu-ratu yang lain akan marah . Aku akan susah sekali menenangkan mereka. Tapi bila Kuberikan pada Satyabhama, Rukmini tentu juga akan cemburu”.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 489px"><img class=" " src="http://www.exoticindiaart.com/tanjore/vidya/krishna_with_rukmini_and_satyabhama_tw04.jpg" alt="" width="479" height="640" /><p class="wp-caption-text">Sri Krishna dan Rukmini - Satyabhama</p></div>
<p>Narada tiba-tiba memecahkan keheningan Krishna yang tengah berpikir, “Cepatlah. Saya masih punya urusan mendesak yang harus dijalankan. Tolong segera berikan bunga itu pada salah satu ratu semasih saya ada di sini dan belum pergi.” Karena desakan Narada, Krishna kemudian mengmbil bunga itu, memejamkan mata-Nya, dan memberikan pada Rukmini. Krishna berpikir bila sambil menutup mata, ratu-ratu lain tidak akan bisa berkata bahwa Beliau memberikannya dengan penuh perasaan.</p>
<p>Seketika itu, dengan menghela napas berat seperti seekor ular, Satyabhama berlari ke istananya. Dia melepaskan pakaian indah dan perhiasannya, kemudian mengenakan kain tua, lusuh dan compang-camping. Sambil menangis dia memasuki <em>kop-bhavan</em>-nya, ”kamar amarah”. Para raja biasanya membangun “kamar amarah” bagi para ratunya. Bila seorang ratu berdiam di sana, sang raja tahu bahwa dia harus segera merayu dan menenangkannya. Kini Satyabhama pergi ke <em>kop-bhavan</em>-nya dan mulai menangis keras-keras. Para dayang-dayangnya yang banyak kemudian berusaha menenangkan dengan sedemikian rupa sehingga Krishna akan tahu bahwa Dia telah berbuat salah.</p>
<p>- bersambung -</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=133&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/18/ratapan-uddhava-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.krsna-art.com/images/pics/big/KA1_170.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uddhava and Lord Krishna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.exoticindiaart.com/tanjore/vidya/krishna_with_rukmini_and_satyabhama_tw04.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>JALAN DAN TUJUAN</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/05/jalan-dan-tujuan/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/05/jalan-dan-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 06:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Untuk memahami tujuan tertinggi pengetahuan (sadhya) dan cara untuk mencapai tujuan itu (sadhana), Sri Tapana Misra bertanya kepada Tuhan Caitanyacandra sebagai berikut, Sang Brahmana berkata, ‘ami ati dina-hina jana’. Hamba adalah orang papa yang rendah dan hina. Mohon bebaskanlah hamba dari keberadaan duniawi ini dengan lirikan-Mu yang penuh karunia. Hamba tidak mengetahui tujuan dari kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=124&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://soithappens.files.wordpress.com/2009/03/navadvipa-gauranga.jpg?w=299&#038;h=452" alt="" width="299" height="452" />Untuk memahami tujuan tertinggi pengetahuan (<em>sadhya</em>) dan cara untuk mencapai tujuan itu (<em>sadhana</em>), Sri Tapana Misra bertanya kepada Tuhan Caitanyacandra sebagai berikut, Sang Brahmana berkata, ‘<em>ami ati dina-hina jana</em>’. Hamba adalah orang papa yang rendah dan hina. Mohon bebaskanlah hamba dari keberadaan duniawi ini dengan lirikan-Mu yang penuh karunia. Hamba tidak mengetahui tujuan dari kehidupan maupun cara untuk mencapainya, mohon jelaskanlah hal ini kepada hamba. Hamba tak menemukan kenikmatan apapun dalam pemuasan indria duniawi. Oleh karenanya <em>He Doya moy</em>, O Tuhan Yang Mahamurah-hati, bagaimanakah cara hamba memperoleh kelegaan?”<span id="more-124"></span></p>
<p>Tuhan bersabda, “Vipra! O Brahmana! Apalagi yang dapat dikatakan tentang betapa beruntungnya dirimu. Karena engkau memiliki keinginan untuk memuja Krishna, itu saja sudah cukup. <em>Isvara-bhajana</em>, pemujaan kepada Tuhan Tertinggi, bagaimanapun juga sungguh sulit dicapai. Tuhan Sendiri secara pribadi mengajarkan prinsip-prinsip keagamaan (<em>dharma</em>) bagi jaman tertentu. Dia menjelma untuk menegakkan empat dharma yang berbeda bagi empat jaman yang berbeda pula, dan setelahnya Dia kembali ke tempat kediaman-Nya.”</p>
<p style="text-align:center;"><em>paritranaya sadhunam vinasaya ca duskrtam</em><br />
<em> dharma samsthapanarthaya sambhavami yuge-yuge</em></p>
<p>“Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat, dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma Aku Sendiri muncul pada setiap zaman.”</p>
<p>“Yuga-dharma bagi jaman Kali adalah pengucapan nama suci Tuhan secara beramai-ramai (<em>sankirtana</em>). Empat dharma bagi empat jaman itu semuanya dimaksudkan demi pembebasan para roh yang terikat.”</p>
<p style="text-align:center;"><em>krte yad dhyayatovisnum tretayam yajato makhaih</em><br />
<em> dvapare paricaryayam kalau tad-dhari kirtanat</em></p>
<p>Hasil apapun yang diperoleh pada Satyayuga dengan bermeditasi pada Visnu, pada Tretayuga dengan melaksanakan pengorbanan suci, dan pada Dvaparayuga dengan melayani kaki padma Tuhan, akan dicapai pada Kaliyuga ini hanya dengan mengucapkan Hare Krishna mahamantra</p>
<p>Intisari segala prinsip-prinsip keagamaan pada jaman Kali ini adalah pengorbanan suci berupa pengucapan nama-nama suci Tuhan (<em>sankirtana maha-yajna</em>). Seseorang tidak akan dapat terbebaskan dengan mengikuti prinsip-prinsip keagamaan yang lain. <em>Veda-gopya</em> atau makna rahasia veda-veda tidak pernah terwujud bagi orang-orang biasa. <strong>Makna rahasia veda hanya mewujudkan dirinya di dalam hati seseorang yang menjadi pengikut sejati proses rohani veda</strong>, yaitu seseorang yang mengikuti seorang acarya sejati dan menerima pengetahuan rohani melalui proses turun temurun dari garis perguruan yang terpercaya. Pokok-pokok bahasan apapun yang dapat dipahami oleh para penikmat indria duniawi maupun para rohaniawan dengan pengetahuannya yang miskin dan dangkal hanyalah makna luar dari veda. Pokok-pokok bahasan yang demikian itu bukanlah tujuan utama para pengikut veda yang sejati, yang mencari pengetahuan sebenar-benarnya.</p>
<p>Veda sendiri pun tak mampu menguraikan sepenuhnya kemuliaan seseorang yang mengucapkan nama-nama Tuhan siang malam, bahkan di kala dia makan maupun tidur. Dengarlah wahai Misra! Tidak ada pertapaan maupun pengorbanan yang lain dianjurkan pada jaman Kali ini. Orang yang memuja Krishna adalah yang paling beruntung. Kembalilah ke rumahmu dan pujalah Tuhan Krishna dengan penuh perhatian, lepaskan segala kecenderungan tipu-menipu. Dengan mengucapkan nama suci Krishna beramai-ramai, engkau akan memperoleh segalanya, baik cara menuju tujuan tertinggi (<em>sadhana</em>) maupun tujuan tertinggi itu sendiri (<em>sadhya</em>)</p>
<p style="text-align:center;"><em>harer nama harer nama</em><br />
<em> harer namaiva kevalam</em><br />
<em> kalau nastyeva nastyeva</em><br />
<em> nastyeva gatir anyatha</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>HARE KRISHNA HARE KRISHNA</em><br />
<em> KRISHNA KRISHNA HARE HARE</em><br />
<em> HARE RAMA HARE RAMA</em><br />
<em> RAMA RAMA HARE HARE</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>ei sloka nama bali’laya maha-mantra</em><br />
<em> sola-nama batrisa-aksara ei tantra</em></p>
<p>Dalam jaman yang penuh pertengkaran dan kemunafikan ini tiada cara lain untuk mencapai pembebasan selain mengucapkan nama suci Tuhan.</p>
<p style="text-align:center;"><em>HARE KRISHNA HARE KRISHNA</em><br />
<em> KRISHNA KRISHNA HARE HARE</em><br />
<em> HARE RAMA HARE RAMA</em><br />
<em> RAMA RAMA HARE HARE</em></p>
<p>Inilah yang disebut maha-mantra. Mengandung enam belas nama suci Tuhan, terdiri dari tiga puluh dua suku kata.<br />
<strong>Bila engkau senantiasa mengucapkan maha-mantra ini, benih cintakasih kepada Tuhan akan tumbuh di hatimu.</strong> Maka engkau akan memahami tujuan kehidupan dan cara untuk mencapainya”.</p>
<p>Setelah mendengarkan ajaran ini dari bibir padma Tuhan, Tapana Misra, yang terbaik di antara para brahmana, bersujud berulang-ulang kepada-Nya. Tapana Misra lalu berkata, ”Ijinkanlah hamba turut tinggal bersama-Mu, Tuhan”.<br />
Tuhan kemudian menjawab, ”Segeralah engkau pergi ke Varanasi (Kasi, Benares). Aku akan menemuimu di sana dan menjelaskan kepadamu kebenaran tentang tujuan kehidupan serta cara mencapainya”. Tuhan kemudian memeluknya, dan oleh kebahagiaan cintakasih yang luar biasa Tapana Misra menjadi merinding. Ketika dia akan permisi, Tapana Misra memeluk kaki padma Tuhan.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.harekrsna.com/philosophy/caitanya/tattva.gif" alt="" width="389" height="500" /></p>
<p>Prabhupada Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati menjelaskan bahwa ketika Tapana Misra mengungkapkan keinginannya untuk mendampingi Tuhan ke Sri Mayapur, dia diperintahkan oleh Tuhan untuk pergi ke Varanasi, tempat segala kesimpulan sastra suci yang menentang Kebenaran Mutlak sangat berpengaruh. Ada banyak penganut ajaran Mayavada, baik dalam pengikut Buddha maupun pengikut Sankara, yang memilih berlindung pada pengetahuan spekulatif dan menentang pengucapan nama suci Tuhan tinggal di Varanasi. Di kemudian hari, ketika Tapana Misra akan bertanya kembali dan Tuhan Sendiri juga akan menjelaskan kembali tujuan hidup tertinggi berikut cara mencapainya. Orang-orang yang mengharapkan pembebasan, yang mendengar kesimpulan kitab suci tentang <em>sadhya</em> dan <em>sadhana</em> langsung dari Tuhan Sendiri, akan terlepas dari kondisi batinnya itu dan memperoleh kesempatan melayani Tuhan tanpa kepura-puraan, segera setelah mendengar kesimpulan Tuhan ini. Inilah sebabnya mengapa Tuhan mengirim penyembah-Nya, Sri Tapana Misra ke Kasi.<br />
<em>Sarva-bhuta-krpaluta prabhura carita</em><br />
Adalah sifat-Nya, Tuhan senantiasa penuh belas kasih kepada semua makhluk.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=124&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/05/jalan-dan-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://soithappens.files.wordpress.com/2009/03/navadvipa-gauranga.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harekrsna.com/philosophy/caitanya/tattva.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Uluran Tangan-Nya</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/03/uluran-tangan-nya/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/03/uluran-tangan-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 16:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Rsi yang mulia itu Sri Naradamuni kembali ke bumi, dia melihat suatu kemunduran dalam kegiatan keagamaan orang-orang. Umat manusia telah meninggalkan kedermawanan, pengendalian diri dan pertapaan. Mengabaikan segala perbuatan-perbuatan saleh, manusia menggunakan tubuh, ucapan dan pikirannya hanya untuk memikirkan istri-istri mereka. Pria sepenuhnya tergila-tergila pada wanita dan pemuasan indria. Tak seorangpun yang peduli sedikitpun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=109&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class=" " title="SRI GOURKARAKAMALA" src="http://nitaaiveda.com/SG_Translated_and_Main_Scriptures/G_Hands_small.jpg" alt="" width="320" height="316" /><p class="wp-caption-text">Telapak tangan Sri Caitanya Mahaprabhu</p></div>
<p>Ketika Rsi yang mulia itu Sri Naradamuni kembali ke bumi, dia melihat suatu kemunduran dalam kegiatan keagamaan orang-orang. Umat manusia telah meninggalkan kedermawanan, pengendalian diri dan pertapaan. Mengabaikan segala perbuatan-perbuatan saleh, manusia menggunakan tubuh, ucapan dan pikirannya hanya untuk memikirkan istri-istri mereka. Pria sepenuhnya tergila-tergila pada wanita dan pemuasan indria. Tak seorangpun yang peduli sedikitpun pada yoga dan keinsafan diri. Melihat tanda-tanda ini yakinlah Narada bahwa selama kunjungannya ke Brahmaloka, Kali sudah tiba dan meluaskan pengaruhnya di bumi. Sungguh gundah hatinya, Naradapun kemudian duduk dan mulai bermeditasi. <span id="more-109"></span></p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignright" title="SRI JAGANNATH" src="http://pavan.org.in/images/jagannath14.jpg" alt="" width="261" height="580" />Tiba-tiba terdengarlah gema suara illahi di angkasa, “Aku Tuhan Jagannath, Tuhan Alam Semesta, dan Aku telah hadir sebagai <em>daru brahman</em> (Kebenaran Mutlak dalam sebatang kayu), Aku bersemayam di Nilacala, di tepi samudera, demi keselamatan dan pembebasan semua roh-roh yang telah jatuh ke dalam samsara. Sudahkah engkau lupakan kejadian dimasa lampau? Untuk memenuhi janji Katyayani Devi (Devi Durga, Ibu Alam Semesta ), Aku telah turun membagikan <em>maha-prasada</em>-Ku bagi semua orang. Kini, O yang terbaik diantara para Rsi. Datanglah menghadap ke Nilacala (Jagannath Puri), untuk mematuhi perintahKu ! ”</p>
<p>Terharu oleh gelora cinta rohani, Narada berseru, “O Jagannath!”. Sambil memainkan senar <em>vina</em>-nya, Narada segera bergegas pergi ke Nilacala. Begitu memasuki Kuil Agung, dia melihat wajah Tuhan Jagannath yang bulat lebar. Wajah-Nya lebih menye-jukkan, kemilauan, dan indah melebihi jutaan bulan.</p>
<p>Narada melihat Tuhan Jagannath sebagai Pribadi Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna, sumber dari segala <em>avatara</em>. Tuhan dipenuhi kebahagiaan tiada tara dan senyum-Nya begitu cemerlang. Kini Dia telah hadir dalam Rupa-Nya yang paling berkarunia sebagai Arca junjungan mulia.</p>
<p>Narada rebah, menjatuhkan diri di kaki padma Jagannath seraya berkata, ”Tuhan Jagannath, Kali sudah tiba. Curahkanlah karunia-Mu. Umat manusia kebingungan, sungguh terpuruk, dan penuh ratap derita. Di bawah kendali indria-indrianya mereka sibuk melakukan perbuatan-perbuatan berdosa yang menjijikkan ”.</p>
<p>Tuhan Jagannath tersenyum, menyentuh tangan Narada, kemudian bersabda, ”Narada, sekarang engkau harus pergi ke Goloka, kediaman rohani tertinggi. Sri Gaurasundara bersemayam di sana. Laksmi dan para devi lainnya sedang memuja Tuhan Sri Hari dengan penuh cinta. Dialah satu-satunya penikmat. Radha dan Rukmini adalah Ratu utamanya. Bersama berbagai ekspansi-Nya yang tak terbatas melayani Tuhan seperti itu.</p>
<p>Empat jenis pembebasan dianugerahkan oleh Sang Penguasa Vaikuntha, Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Bahkan insan-insan yang paling rendah, jatuh dan hina sekalipun, yang hidup di alam duniawi ini akan mencapai pembebasan dengan melaksanakan pengabdian suci. Akan tetapi walau demikian, hanyalah bhakti yang murni sajalah yang dapat mengendalikan Sang Penguasa Tertinggi.</p>
<p>Bagaikan gula tak mampu menikmati rasa manisnya sendiri, tetapi membantu yang lain untuk merasakan kenikmatan dan rasanya, begitu pula hanya dengan bantuan bhakti, pembebasan secara langsung akan dicapai. Pembebasan membendung aliran alami dari pengabdian cinta kasih yang murni. Oleh karena itu ketahuilah olehmu, bahwa <em>prema-bhakti-yoga</em> sesungguhnya jauh melampaui empat jenis pembebasan.</p>
<p>Tuhan Yang Mahakuasa, Raja Goloka akan datang ke Puri sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu demi membagi-bagikan karunia-Nya. Sebagai Tuhan di atas segala tuhan, Dia akan memiliki tubuh yang tinggi keemasan. Dengan membagikan kasih karunia-Nya secara bebas Dia akan menghapus derita setiap orang. Dia akan mengajar, memuji, dan memuliakan nama suci. Dia akan menyebarkan kebahagiaan <em>Krishna-prema</em> yang murni untuk membebaskan semua orang pada Kali-yuga. Kini pergilah temui Dia dan segala kesusahanmu akan reda”.</p>
<p>Setelah mendengar semua ini dari Tuhan Jagannath, Narada Muni meninggalkan Puri untuk kemudian pergi ke Vaikuntha. Dalam perjalanan Narada berpikir, ”Aku telah mendengar pokok-pokok bahasan rahasia dalam Srimad Bhagavatam tentang mukti dan bhakti. Aku juga telah mendengarkan tentang tempat itu, yang tak diketahui, tak terwujud di dunia ini dan berada di balik pengetahuan Veda-veda. Hari ini aku akan melihat tempat itu dengan mata kepalaku sendiri.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/09/1338chaitanyakrishnaramanarayana.jpg?w=410&#038;h=543" alt="" width="410" height="543" /></p>
<p>Dalam Caitanya Caritamrta ada disebutkan. ”Tiada beda antara Jagannath dan Krishna Sendiri, namun di Puri, Jagannath tetap berdiam di satu tempat sebagai Yang Tak Terbatas hadir dalam sebatang kayu, tak bergerak. Jagannath dan Mahaprabhu Sri Caitanyadeva, walau tampak terpisah, sesungguhnya adalah satu karena Beliau adalah satu Krishna Yang Tunggal, dalam dua wujud. Keinginan untuk menyelamatkan dunia berkobar-kobar dalam Hati Suci Kedua-Nya. Demi menyelamatkan semua orang, Krishna telah turun sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu. Dengan melihat Jagannath, seseorang akan dibebaskan dari ikatan keberadaan duniawi. Namun tak semua orang dapat diijinkan memasuki kuil agung-Nya di Jagannath Puri. Berbeda dengan Caitanya Mahaprabhu, Beliau bergerak dari negeri ke negeri, secara Pribadi maupun melalui pengantara dan wakil-wakil-Nya. Dengan cara ini Beliau menyelamatkan seluruh dunia.”</p>
<p>Pada zaman Kali ketika orang-orang berpaling dari Tuhan, menolak-Nya, memandang rendah kepada-Nya dan tidak mempunyai waktu untuk-Nya. Maka Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna datang sebagai Jagannath dan bersemayam di Puri. Hanya dengan melihat-Nya saja seseorang akan segera mencapai pembebasan. Walau demikian tidak semua orang mau yakin dan datang kepada-Nya. Tidak semua orang memiliki keberuntungan dapat memandang Jagannath, tidak memiliki iman dan justru menganggap-Nya sebatang kayu tak berjiwa.</p>
<p>Betapa besar kasih Tuhan kepada semua makhluk. Sekalipun mereka menolak-Nya, dia justru memilih untuk turun dari Kediaman Penuh Kebahagiaan-Nya, keluar dari tembok kuil-Nya dan menemui mereka. Itulah Sri Caitanya Mahaprabhu. Dengan kaki padma-Nya Dia berjalan ke seluruh penjuru negeri, mengulurkan keselamatan dan cinta-Nya dengan tangan-Nya Sendiri. Tidak puas sampai di sana saja. Mahaprabhu mengirim utusan-utusan, pengantara-pengantara, dan wakil-wakil-Nya untuk pergi ke seluruh penjuru dunia, mengetuk setiap pintu, menjamah setiap hati. Tuhan telah berkenan datang dan kini menanti kita untuk datang ke dalam pelukan cinta-Nya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=109&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/03/uluran-tangan-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nitaaiveda.com/SG_Translated_and_Main_Scriptures/G_Hands_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SRI GOURKARAKAMALA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pavan.org.in/images/jagannath14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SRI JAGANNATH</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/09/1338chaitanyakrishnaramanarayana.jpg?w=226" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Akar Dari Yang Mahamenakjubkan</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/01/akar-rasa-manis-yang-menakjubkan/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/01/akar-rasa-manis-yang-menakjubkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 16:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Dinyatakan bahwa bahkan Krishna sekalipun jatuh hati kepada ketampanan-Nya Sendiri, apalagi orang lain. Ini selanjutnya adalah merupakan karakteristik yang sangat mencengangkan dari Gaura-lila. Kejadian yang menakjubkan ini, yaitu takjubnya Tuhan, akan Diri-Nya yang Mahamenakjubkan, merupakan akar dari kehadiran Sri Caitanya yang juga sungguh menakjubkan. Sri Caitanya adalah akar dari puncak manisnya kasih, pengejawantahan tertinggi cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=105&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://www.salagram.net/radhakrsna10.jpg" alt="" width="500" height="602" /></p>
<p>Dinyatakan bahwa bahkan Krishna sekalipun jatuh hati kepada ketampanan-Nya Sendiri, apalagi orang lain. Ini selanjutnya adalah merupakan karakteristik yang sangat mencengangkan dari Gaura-lila. Kejadian yang menakjubkan ini, yaitu takjubnya Tuhan, akan Diri-Nya yang Mahamenakjubkan, merupakan akar dari kehadiran Sri Caitanya yang juga sungguh menakjubkan. Sri Caitanya adalah akar dari puncak manisnya kasih, pengejawantahan tertinggi cinta Tuhan di dunia yang tiada terkira menakjubkannya. Rupa Gosvami mengetahuinya karena beliau adalah Rupa Manjari, yang adalah saksi permainan sukacita Tuhan Sri Krishna yang paling rahasia dan paling menakjubkan.<span id="more-105"></span></p>
<p style="text-align:left;">Jadi dalam Lalita-Madhava-nya beliau menulis,<br />
<em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em>aparikalita-purvah kas camatkara-kari</em><br />
<em> sphurati mama gariyan esa madhurya-purah</em><br />
<em> ayam aham api hanta preksya yam lubhda-cetah</em><br />
<em> sarabhasam upabhoktum kamaye radhikeva</em></p>
<p>“Siapakah yang telah mewujudkan sedemikian banyak sifat manis melebihi dari Diri-Ku, yang tidak pernah dialami sebelumnya dan yang menimbulkan rasa takjub bagi semuanya? Oh, hanyalah Diri-Ku seorang, bahkan Pikiran-Ku Sendiri pun terpesona dengan melihat ketampanan ini, berkeinginan untuk terus-menerus menikmatinya sebagaimana Srimati Radharani.” (Lalita-madhava 8.34, dikutip dalam Cc.Adi 4.146)</p>
<p>Demi melihat rupa-Nya Sendiri tercermin di permukaan pilar yang bertatahkan permata, Krishna berpikir, ”Oh siapakah Dia? Siapakah Dia? Seumur hidup-Ku Aku belum pernah melihat rupa yang sedemikian indah. Siapakah pribadi yang menakjubkan ini? Dengan melihat-Nya, keinginan untuk memeluk wujud ini bergelora dalam Hati-Ku.” Kemudian Beliau menolehkan wajah-Nya ke arah beberapa kawan-Nya yang tengah berdiri di samping-Nya dan berkata, “Lihatkah kalian wujud ini?” Kemudian wujud itu juga menolehkan wajah-Nya dan Krishna pun mengerti, “Oh, itu Diri-Ku”. “Di dalam-Ku ada keindahan yang sedemikian rupa, Aku tidak mengetahuinya.” Jadi Krishna pun mengembangkan hasrat yang besar untuk menikmatinya.</p>
<p><em>ei prema-dvare nitya radhika ekali</em> <em>amara madhuryamrta asvade sakali</em><br />
“Hanya Radhika, oleh kekuatan cinta-Nya, menikmati sepenuhnya madu sifat manis-Ku.” (Cc. Adi 4.139)</p>
<p>Apa yang dinikmati oleh orang lain hanyalah sebagian. Hanya Radharani yang menikmati ketampanan Krishna sepenuhnya. Oleh karena itu Krishna muncul dari hati Radharani dan mengambil wujud Gaura. Secara otomatis warna tubuh Radharani pun hadir dalam tubuh Sri Gauranga, <em>tapta kancana gauranga.</em></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://www.columbuskrishnahouse.com/files/caitanya.jpg" alt="" width="464" height="562" /></p>
<p>Mahaprabhu menikmatinya, tetapi Beliau tidak menyimpannya sendiri. Beliau juga membagikannya. Oleh karena itu <strong>sungguh menakjubkan kemurahan hati-Nya, sungguh menakjubkan karunia-Nya, dan sungguh menakjubkan kedermawanan-Nya</strong>. Itulah Gaura-lila, permainan sukacita dari Sri Krishna Caitanya. Beliau merasakan sakitnya derita perpisahan, menangis demi Krishna. Lila ini bagaikan sebuah samudera yang tiada batasnya. Samudera itu meluap-luap, dan luapan yang paling melimpah ada di Purusottama Ksetra karena Mahaprabhu mengungkapkan antya-lila-Nya di Jagannath Puri Dhama.</p>
<p>Ketika beliau menari di hadapan Tuhan Jagannath pada saat Ratha Yatra, Jagannath menunjukkan wujud Syamasundara-Nya kepada Beliau. Jagannath memperlihatkan wujud itu karena Mahaprabhu berada dalam <em>radha-bhava</em>. Dengan <em>bhava</em> itu Beliau menyanyikan Hare Krishna dan menari-nari di hadapan Syamasundara Jagannath. Ketika Mahaprabhu mempertunjukkan tarian yang sangat memukau itu, seluruh dunia menjadi takjub. Tidak hanya seluruh dunia bahkan Jagannath, Sang Penguasa Dunia pun menjadi takjub. Ini karena akar dari menikmati <em>rasa</em> itu adalah ketakjuban. Demikianlah ketika pandangan Krishna jatuh pada wujud-Nya Sendiri yang terpantul pada permukaan pilar yang bertatahkan permata, Beliau menjadi takjub.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=105&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/09/01/akar-rasa-manis-yang-menakjubkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.salagram.net/radhakrsna10.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.columbuskrishnahouse.com/files/caitanya.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dalam Garis Goudiya (2)</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/27/belajar-dalam-garis-goudiya-2/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/27/belajar-dalam-garis-goudiya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 15:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Pada awal abad ke-20 tokoh rohaniwan besar sekaligus penulis produktif dari Bengala, Sri Thakura Bhaktivinoda, juga menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam perkembangan kekayaan pustaka Hindu. Beliau hidup sejaman dengan para pendiri Brahmo-samaj dan teman baik keluarga Tagore. Berbeda dengan sastrawan Rabindranath Tagore yang lebih memilih penampilan populer, Thakura Bhaktivinoda memilih memasuki inti masyarakat Veda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=99&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/bhaktivinodathakur.gif?w=414&#038;h=514" alt="" width="414" height="514" /></p>
<p style="text-align:left;">Pada awal abad ke-20 tokoh rohaniwan besar sekaligus penulis produktif dari Bengala, Sri Thakura Bhaktivinoda, juga menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam perkembangan kekayaan pustaka Hindu. Beliau hidup sejaman dengan para pendiri Brahmo-samaj dan teman baik keluarga Tagore. Berbeda dengan sastrawan Rabindranath Tagore yang lebih memilih penampilan populer, Thakura Bhaktivinoda memilih memasuki inti masyarakat Veda yang lebih ortodoks dan menjadi pewaris dari garis perguruan tradisional Goudiya. Thakura Bhaktivinoda, sekalipun memelihara penyampaian ajaran Veda dalam kalangan konservatif, namun beliau berhasil merintis dibagikannya ajaran-ajaran esoterik Veda bagi dunia internasional, yang sebelumnya hanya terbatas dalam lingkungan masyarakat tertentu. Beliau adalah Acharya Goudiya pertama yang menyampaikan ajaran Veda dalam tulisan-tulisan berbahasa Inggris.<br />
<span id="more-99"></span><br />
Srila Thakura Bhaktivinoda juga menulis dalam karyanya yang berjudul Amnaya-sutra, “Seorang yang bernama Bhaktivinoda, dengan bersujud pada guru semesta Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu, atas pemberkatan para hamba Tuhan dan perintah roh-roh yang agung, menyusun 130 sutra ini yang menguraikan kesimpulan akhir semua Veda-veda. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengkaji delapan <em>pramana</em>, enam <em>lingam</em>, dan makna langsung serta tidak langsung semua kata-kata <em>shabda</em>. Semoga semua hamba-hamba Tuhan, yang berlindung pada kaki padma Bhagavan Sri Caitanya mempelajari sutra-sutra ini.”</p>
<p>Semua orang yang serius dalam menempuh hidup rohani dalam jalan Veda mengetahui bahwa Sri Caitanya adalah teladan sempurna bagi mereka yang mendalami Bhaktiyoga. Seorang Acharya dan penulis seperti Srila Bhaktivinoda menginginkan agar semua orang yang mendalami Bhaktiyoga di bawah bimbingan ajaran Sri Caitanya dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sutra karya beliau itu. Ini adalah intensi dari sang penulis. Lalu Sang Thakura juga mempermudah kita dengan terlebih dahulu mempelajari begitu banyak aspek Veda kemudian menyimpulkannya untuk mendukung pelaksanaan bhakti kita. Selain itu beliau menulis buku bukan atas dasar keinginan sendiri saja atau untuk mendapat jasa dari usahanya itu, melainkan atas perintah begitu banyak orang suci yang hidup pada masanya. Penulisan buku itu sendiri juga memperoleh pemberkatan dari masyarakat para santa atau sadhu, yang tentu juga selalu mengharapkan kesejahteraan rohani semua orang. Jadi bagi mereka yang juga ingin benar-benar membina diri dalam Bhaktiyoga, kitab-kitab yang disusun oleh para penulis seperti Sri Jiva Goswamipada, Sri Madhvacharya, dan Srila Thakura Bhaktivinoda, adalah merupakan bacaan wajib.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://radhakrishanparivar.com/yahoo_site_admin/assets/images/picture_020.331195603_std.jpg" alt="" width="640" height="419" /></p>
<p>Khususnya bagi Goudiya Vaishnava, teladan yang paling mulia dan sempurna dari para <em>suddha bhakta</em> adalah para gopi di Vrindavan. Mereka tidaklah tertarik untuk mengerti tentang roh, Brahman, maupun tentang Krishna sekalipun. Apakah Krishna Tuhan, apakah Krishna Mahakuasa, atau bagaimanakah Krishna mengatur seluruh manifestasi alam semesta ini. Mereka hanyalah tertarik untuk mencintai Krishna. Cintakasih yang demikian itu adalah tingkatan pelayanan pengabdian suci yang paling murni. Dalam cinta itu mereka hanyalah memikirkan keinginan dan kepuasan Krishna, tidaklah pernah memikirkan keinginan, kesenangan dan kebahagiaan mereka sendiri. Kebahagiaan bagi mereka adalah bila Krishna berbahagia. Sampai seseorang meningkat sampai bhakti yang murni ini maka akan selalu ada kecenderungan menginginkan pencapaian kedudukan duniawi yang lebih tinggi.</p>
<p>Selama ini kita memahami spiritualisme sebagai semacam cara untuk mendapatkan kelepasan dari derita dan dukacita. Kita juga memahaminya sebagai jalan untuk menembusi rahasia Tuhan yang misterius dan memperoleh kekuatan mistis. Tapi semua ini adalah keinginan-keinginan duniawi yang tidak berkaitan sama sekali dengan spiritualisme, jalan rohani sejati.</p>
<p>Berkat karunia Tuhan Sri Caitanya Mahaprabhu dan garis parampara Goudiya-Nya kita dapat membuka mata terhadap kenyataan sesungguhnya dari kerohanian. Kita dapat melihat teladan agung para gopi di Vrindavan. Kita menjunjung teladan cintakasih mereka sebagai pembimbing dan aspirasi tertinggi kita. Kita menerima debu dari kaki padma mereka sebagai tujuan dari segala pendakian rohani kita, khususnya kaki padma Sri Rupa Gosvami, yang tiada berbeda dari Sri Rupa Manjari, hamba terkasih Mahaprabhu, Sri Sri Radha Krishna Sendiri yang menunggal menjadi satu. Jalan Goudiya kita adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sri Rupa, Rupanuga, dan juga oleh para Acarya yang setia kepada teladan agung beliau seperti Srila Cakravarthipad, Srila Bhaktivinod Thakura, Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati, dan Srila AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada.</p>
<p><img class="alignright" src="http://www.krishnaconsciousnessmovement.com/Images/ALL/Prabhupada_at_Deity_Greeting.jpg" alt="" width="285" height="362" />Seorang aspiran dalam Goudiya Vaishnava menerima pengertian kerohanian dengan cara seperti ini, bukan yang lain. Adalah berkat kemurahan hati Srila Prabhupada banyak dari kita dapat memasuki jalan yang mulia ini sekalipun diawali dengan bermacam-macam keinginan dan tujuan. Namun karena jalan Kesadaran Krishna yang sesungguhnya adalah jalan bhakti yang murni, maka bila sedari mula kita berusaha menempatkan minat kita dalam aspirasi yang sejati, maka secara bertahap Kesadaran Krishna yang murni akan terwujud dalam diri. Ciri dari Kesadaran Krishna ini adalah dia tidak akan lagi tertarik pada segala jenis kemajuan dalam hidup duniawi. Dia hanyalah tertarik untuk memberikan kebahagiaan kepada Tuhan Sri Krishna didasari oleh cintakasih yang murni, sebagaimana diteladankan oleh para Acarya Goudiya kita, dan tentu saja oleh para gopi di Vrindavan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=99&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/27/belajar-dalam-garis-goudiya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/bhaktivinodathakur.gif?w=241" medium="image" />

		<media:content url="http://radhakrishanparivar.com/yahoo_site_admin/assets/images/picture_020.331195603_std.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.krishnaconsciousnessmovement.com/Images/ALL/Prabhupada_at_Deity_Greeting.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dalam Garis Goudiya (1)</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/26/belajar-dalam-garis-goudiya-1/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/26/belajar-dalam-garis-goudiya-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 15:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[goudiya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 1930-an di Kolkata pernah ada penerbitan sebuah harian rohani bernama Nadiya-prakasa yang diprakarsai oleh Sri Bhaktisiddhanta Sarasvati. Seorang tokoh politik di masa itu meragukan kemampuan beliau menerbitkannya. Masalahnya apakah tidak bakal kekurangan bahan? Tetapi Srila Siddhanta Sarasvati berkata bahwa Kolkata hanya satu kota di bumi yang begitu luas, toh tetap saja ada surat kabar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=95&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="siddhantasaraswati" src="http://api.ning.com/files/N1avA7ik3myU*KaTaNlIei6cX-r0HR-6SCanxxFmSKHifgqm2W*aLygx9ek5JsxgL2WjrPmM0qguZUUXkVAHbAK*-XIJtJ-AkjszVHfRuyI_/bhaktisiddhanta3.jpg" alt="" width="508" height="254" />Tahun 1930-an di Kolkata pernah ada penerbitan sebuah harian rohani bernama Nadiya-prakasa yang diprakarsai oleh Sri Bhaktisiddhanta Sarasvati. Seorang tokoh politik di masa itu meragukan kemampuan beliau menerbitkannya. Masalahnya apakah tidak bakal kekurangan bahan? Tetapi Srila Siddhanta Sarasvati berkata bahwa Kolkata hanya satu kota di bumi yang begitu luas, toh tetap saja ada surat kabar yang bisa terbit setiap hari. Sedangkan Veda, adalah pengetahuan dari dunia rohani yang tak terbatas. Bila saja ada cukup sumber daya, maka jangankan hanya harian, masing-masing kota di bumi bisa menerbitkan surat kabar dari dunia rohani, pembahasan Veda-dharma ini, setiap detik. Jadi bisa kita bayangkan betapa banyak, luas, dan dalamnya pengetahuan yang ada dalam Veda.<span id="more-95"></span></p>
<p>Sekarang ada begitu banyak buku dan juga tulisan yang dibuat oleh begitu banyak orang tentang berbagai aspek kehidupan rohani. Salah satu pertanyaan bagi mereka yang punya hobi membaca, apalagi membaca tentang topik-topik spiritual, adalah “Apa yang harus saya baca?”</p>
<p>Kita tentu tidak dalam posisi untuk menilai apakah suatu karya itu baik atau buruk secara objektif. Sungguh, secara logis ini sulit dan nyaris tidak mungkin. Kita memahami bahwa setiap orang, setiap individu memiliki relasi pribadinya yang unik dengan Tuhan. Konsekuensinya setiap orang juga memiliki pemahamannya sendiri dalam hidup rohani. Apapun yang mereka katakan atau mereka tulis merupakan ekspresi dari realisasi mereka. Untuk itu kita harus memberikan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada apapun karya mereka.</p>
<p>Ketika kita menentukan apa yang harus kita baca atau pelajari, bukanlah berdasarkan penilaian relatif mengenai baik-buruknya suatu karya. Tetapi dengan memperhatikan interaksi intensi kita, yaitu apa maksud yang ingin disampaikan oleh penulis, dan apa tujuan kita yang membacanya. Bila kita merasakan bahwa karya itu dapat mendukung tujuan utama pembelajaran kita, maka baiklah kita terima. Tetapi bila tidak, kita berhak meninggalkannya tanpa perlu berkomentar buruk apapun. Selama kita tidak memiliki keinsafan menyeluruh terhadap hidup rohani, maka kita tentu juga tidak memiliki pengalaman apapun mengenai keinsafan orang lain. Jadi wajar kita tidak punya kompetensi untuk melakukan penilaian, apalagi sampai menjelek-jelekkan. Ini prinsip belajar yang sangat baik, terutama dalam usaha memahami ajaran Veda yang begitu luas dan dalam.</p>
<p>Setiap orang maju dengan pemacunya sendiri, mencapai keinsafannya sendiri, dan membangun relasinya yang paling pribadi bersama Tuhan. Setiap orang harus dapat menghormati dan menghargai semua ini. Tetapi sekalipun agama adalah hal yang sangat pribadi, tradisi agung kita mendukung setiap orang untuk selalu membagi kemajuan rohaninya pada tingkat apapun juga. Ini bisa dicapai dengan menuliskannya. Siapa saja bisa menuliskan dan membagi keinsafannya itu kepada semua orang. Sebanyak pencapaian tingkat-tingkat kesempurnaan spiritual setiap orang, sebanyak itu pula karya-karya relijius yang bisa kita temukan dalam masyarakat. Setiap orang juga berhak memilih bacaan apapun dari sekian banyak yang tersedia baginya.</p>
<p>Tetapi masyarakat pengikut Veda ortodoks bukanlah sama sekali tidak memiliki standar penilaian, atau lebih tepatnya penggolongan, untuk karya-karya rohani yang bersifat otoritatif. Otoritatif di sini bermakna bahwa pemikiran itu dapat diterima oleh para praktisi ajaran rohani Veda, yang dapat berguna mendukung praktik rohani (<em>sadhana</em>) mereka menjadi lebih baik dan lebih maju lagi. Satu hal yang otentik dan otoritatif dalam lingkungan spiritual tertentu, mungkn saja dianggap tidak demikian di tempat yang lain.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://api.ning.com/files/B9qXvDFXG7Qjz1hNIB3DGUEaHbo*im5jULsRThu0oq5-bD3R706-pwjxyu8n*r9XaLtGzDNrZ3I*-qfngmGyq5SI49ZY8gM359dsVp7GfnI_/jiva_goswami.jpg" alt="" width="334" height="512" />Sebagai contoh kita ambil karya rohani yang menjelaskan Bhaktiyoga. Salah satu filsuf India terbesar yang pernah ada, Sri Jiva Goswamipada mengatakan pada bagian awal salah satu kitab Sandarbha karyanya, “<em>sri-bhagavato nirdharanaya sandarbho &#8216;yam arabhyate</em>, sekarang secara lebih khusus lagi saya akan menjelaskan tentang Tuhan, Pribadi Tertinggi yang dipenuhi segala kemuliaan, dalam Sandarbha ini. Saya akan mendasarkan semua argumen saya pada apa yang telah diungkapkan dalam sastra Veda, bukan dengan logika pikiran duniawi semata. Karena Veda adalah yang terbaik dari semua pramana (bahan pembuktian). Dalam Brahmasutra (1.1.3), yang terluhur dari semua Rishi (Sri Vedavyasa) berkata, <em>sastra-yonitvat</em>, Yang Mahatinggi hanyalah dapat dipahami melalui Veda. Juga dikatakan <em>tarka-apratisthanat</em> (2.1.11), logika tidak dapat menyimpulkan pemahaman mengenai Yang Mahamutlak. Dengan kata ini beliau mengritik keterbatasan logika manusia. Karena itu saya juga bersikap sama seperti beliau.”</p>
<p>Di samping itu Sri Jiva juga mengatakan bahwa dirinya menyusun kitab Sandarbha berdasarkan <em>dakshinatyena bhattena adyam granthana-lekham</em>, catatan-catatan tertulis yang asli dari Sri Gopala Bhatta, filsuf mulia dan sarjana ahli Veda yang berasal dari India Selatan. Beliau menerima catatan-catatan dari Bhatta Goswami karena dua alasan. Pertama adalah karena <em>tau santosayata santau srila-rupa-sanatanau</em>, memuaskan para<em> santa</em>, hamba-hamba Tuhan yang tersuci, seperti Sri Rupa Goswamipada dan Sri Sanatana Goswamipada. Dua tokoh ini adalah orang suci yang paling dimuliakan di India Utara pada jamannya sampai sekarang, karena kemurnian dan kesempurnaan rohaninya. Bahkan dikatakan bahwa Akbar, sultan paling cemerlang dalam dinasti Mughal yang beragama Islam, bersujud menghormati Sri Rupa. Jadi apa yang dikatakan oleh Bhatta Goswami disetujui oleh orang suci sempurna seperti itu, bahkan sangat menyenangkan hati mereka. Lalu alasan kedua adalah <em>kranta-vyutkranta-khanditam</em>, apa yang ditulis oleh Bhatta Goswami telah dapat membantah semua kesalahpahaman filsafat sebelumnya atau pendapat-pendapat lain yang terbukti salah. Jadi berdasarkan dua alasan ini, Sri Jiva menggunakan catatan-catatan dari Bhatta Goswami dalam menyusun Sandarbha-nya, selain tentu saja menggunakan kutipan-kutipan berbagai sastra Veda.</p>
<p><img class="alignright" src="http://www.stephen-knapp.com/1355GopalBhatta.jpg" alt="" width="274" height="443" />Mungkin kita juga penasaran dengan kata-kata <em>dakshinatyena bhattena</em>, Sang Bhatta dari Selatan. Bagian Selatan India di kala itu adalah perlindungan bagi tradisi agung kita yang suci dalam wujudnya yang paling murni. Pemikiran dan semangat Veda yang asli relatif tidak ternoda oleh pengaruh asing dari luar seperti di bagian Utara India yang saat itu berada di bawah penjajahan Islam. Segala sesuatu di Selatan hampir pasti masih seperti apa adanya budaya pembelajaran Veda selama berabad-abad lampau. Di Utara, permata pengetahuan Veda tersembunyi dalam hati para penjaga tradisi yang melindunginya dengan segenap jiwa mereka. Tetapi di Selatan, dari hari ke hari, pengetahuan itu tetap dibahas secara terbuka dan dinikmati beramai-ramai. Pengetahuan Veda yang purba dan tradisi sucinya yang luhur, menunjukkan wajah cantiknya di Selatan. Tapi wajah cantik yang sama, terlindung oleh cadar-kerudung di Utara. Sri Bhatta Goswamipada hidup dan dibesarkan dalam lingkungan para Brahmin herediter yang murni semacam itu, dan tetap menjalankan semua tradisi keluarganya yang saleh selama berabad-abad. Karya-karya Sri Bhatta tentunya juga mengandung semangat kemurnian tersebut. Ini logika yang mudah, karena tentu saja kita lebih bisa mempercayai kata-kata orang yang lahir, tumbuh, hidup, dan mati dalam tradisi spiritual itu jikalau memang kita menghendaki kejelasan dalam tradisinya. Seorang yang mati-matian belajar tanpa melakoni tidak memiliki bobot yang sama sebagai sumber pembelajaran rohani, dibandingkan dengan orang yang sungguh-sungguh mempedomani, menghayati, dan mengamalkan suatu ajaran. Teladan yang hidup jauh lebih berharga dari selaksa kata-kata idealis.</p>
<p>Dalam Mahabharata Tatparya Nirnaya, Sri Madhvacharya juga berkata, “Saya dapat menyampaikan kesimpulan segala pengetahuan (siddhanta) – dalam tulisan saya – karena <em>sastrantarani sanjanan vedantasya prasadatah dese dese tatha granthan drishtva caiva prithag vidhan yatha sa bhagavan vyasah saksan narayanah prabhuh jagada bharatadyeshu tatha vakshye tadikshaya iti</em>, saya memahami semua intisari pustaka suci berkat karunia dari Upanisad-Vedanta. Saya juga telah berkeliling seluruh penjuru negeri dan sudah mengetahui semua kitab suci yang tersebar di mana-mana. Namun yang paling penting adalah saya sepenuhnya memuliakan kata-kata Bhagavan Vedavyasa, yang tiada lain adalah Tuhan Sriman Narayana Sendiri, sebagaimana tertulis dalam Mahabharata dan kitab-kitab lainnya.” &#8211; <strong>Bersambung</strong> -</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/madhva2.jpg?w=512&#038;h=384" alt="" width="512" height="384" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=95&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/26/belajar-dalam-garis-goudiya-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://api.ning.com/files/N1avA7ik3myU*KaTaNlIei6cX-r0HR-6SCanxxFmSKHifgqm2W*aLygx9ek5JsxgL2WjrPmM0qguZUUXkVAHbAK*-XIJtJ-AkjszVHfRuyI_/bhaktisiddhanta3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">siddhantasaraswati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://api.ning.com/files/B9qXvDFXG7Qjz1hNIB3DGUEaHbo*im5jULsRThu0oq5-bD3R706-pwjxyu8n*r9XaLtGzDNrZ3I*-qfngmGyq5SI49ZY8gM359dsVp7GfnI_/jiva_goswami.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.stephen-knapp.com/1355GopalBhatta.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/madhva2.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Goudiya, Diawali dan Diakhiri Dengan Cinta</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/25/jalan-goudiya-diawali-dan-diakhiri-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/25/jalan-goudiya-diawali-dan-diakhiri-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 08:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[caitanya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[goudiya]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kaliyuga]]></category>
		<category><![CDATA[Mahaprabhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa kita berbicara sekian banyak tentang cinta dalam bacaan ini? Ada apa dengan cinta? Mengapa kata itu selalu diulang-ulang? Seorang penyair Vaishnava, Sri Candidasa berkata, “piriti baliya e tina akhara, e tina bhuvana-sara. Pi-ri-ti (cinta) terdiri dari tiga suku kata, ketiganya adalah intisari tiga dunia. Sekali dia masuk dalam pikiranku dia akan tetap di sana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=89&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="RK1" src="http://29.media.tumblr.com/tumblr_ljsl0eNpL91qf35ako1_400.jpg" alt="" width="240" height="400" />Mengapa kita berbicara sekian banyak tentang cinta dalam bacaan ini? Ada apa dengan cinta? Mengapa kata itu selalu diulang-ulang? Seorang penyair Vaishnava, Sri Candidasa berkata, “<em>piriti baliya e tina akhara, e tina bhuvana-sara. Pi-ri-ti</em> (cinta) terdiri dari tiga suku kata, ketiganya adalah intisari tiga dunia. Sekali dia masuk dalam pikiranku dia akan tetap di sana siang dan malam, <em>ei more mane hoy rati-dine</em>, dan aku tak dapat memikirkan yang lain lagi, <em>iha vahi nahi ara</em>”. Bhaktivinode Thakur berkata, “Tujuan hakiki umat manusia adalah untuk mencintai. Demi cinta, manusia sanggup mengorbankan apapun. Semua mahluk dikendalikan oleh cinta”.<span id="more-89"></span></p>
<p>Lalu cinta macam apa yang pantas untuk terus dibicarakan? Tentu bukan yang berakhir oleh maut. Hanya cinta sejati yang kekal, yang pantas dibicarakan. Cinta itu tentu memiliki tiga unsur yaitu: Pribadi Yang Dicintai (<em>pritira-visaya</em>), Pribadi Yang Mencintai (<em>pritira-asraya</em>), tempat kediaman cinta, dan cinta itu sendiri (<em>priti</em>). Satu-satunya <em>pritira-visaya</em> haruslah kekal dan sejati, agar <em>priti</em> itu juga <em>priti</em> yang kekal dan sejati. Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna adalah <em>pritira-visaya</em>. Orang yang tidak mencintai Krishna tidak dapat mencintai apapun. Krishna adalah satu-satunya pusat cintakasih. Pribadi yang mencintai Krishna adalah tempat kediaman cinta sejati, <em>pritira-asraya</em> sejati. Jadi tiga inilah topik pembicaraan kita. <em>Prema-rajyera katha</em>, kisah-kisah dari Kerajaan Cinta adalah mengenai tiga ini. Inilah yang dibahas secara panjang lebar oleh Veda dan inilah kesimpulan semua kitab suci Veda.</p>
<p>Mengucapkan nama suci dan melayani para Vaishnava, yaitu mereka yang telah sempurna dalam cintanya kepada Tuhan, adalah satu-satunya obat bagi para mahluk hidup yang diombang-ambingkan oleh Kaliyuga. Karena gigitan ular samsara, kelahiran dan kematian berulangkali, semua mahluk menjadi hilang kesadaran. Maka inilah <em>ausadham, citta–samskara ausadham</em>, obat yang memurnikan kembali pikiran dan hati mereka.</p>
<p><a href="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/haridas-thakur-and-prostitute.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-90" title="haridas-thakur-and-prostitute" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/haridas-thakur-and-prostitute.jpg?w=300&#038;h=221" alt="" width="300" height="221" /></a></p>
<p>Ketika Acarya Sri Haridasa Thakur memandang keadaan dunia, beliau menghela nafas dalam-dalam. Beliau melihat <em>visayete magna jagat</em>, dunia yang dipenuhi oleh keterikatan indria. Seperti wabah, semua orang terkena penyakit keduniawian dan menjadi <em>visaya vista-murkha</em>, makhluk-makhluk bodoh yang terserap sepenuhnya dalam kesibukan duniawi.</p>
<p>Bagi mereka adalah sangat diperlukan suatu obat yang mampu mengeluarkan seluruh racun samsara dari tubuh, pikiran dan hatinya, sehingga mereka dapat menikmati kebahagiaan sejati. Sarvabhauma Bhattacharya dalam Caitanya Sataka telah menuliskan resep obat itu. <em>Bhagavat-nama</em>, nama suci Tuhan, <em>srimad vaishnava sevanam</em>–melayani para Vaishnava, <em>visrambhena guroh seva</em>–melayani Sri Guru dengan penuh keyakinan, dan <em>vaisnavocchista-bhojana</em>–menikmati sisa makanan para Vaishnava.</p>
<p>Para Vaishnava begitu agung dan mulia. Mereka menerima karunia Tuhan Caitanya Mahaprabhu. Demi melihat keadaan roh-roh yang jatuh yang sepenuhnya terikat dalam lingkaran kelahiran dan kematian, para Vaishnava berbelas kasih dengan membagikan nama suci Tuhan kepada mereka.</p>
<p>Semua penyembah Sri Krishna Caitanya adalah mahatma-mahatma yang agung. Mereka adalah perwujudan dari kebahagiaan sankirtana dan mereka sebaik Krishna Sendiri. Mereka menyelamatkan para jiva yang telah jatuh dan terbakar oleh api derita, dengan memberikan cinta kasih Tuhan. Sifat-sifat mulia para Vaishnava yang adalah penyembah agung Sri Caitanya, amatlah manis. Para Vaishnava itu tidaklah pernah ternoda oleh kesalahan insan-insan rendah yang berlumuran lumpur dosa.</p>
<p>Segala sesuatu tentang para Vaishnava ini adalah begitu indah dan menawan. Kelahiran, kegiatan, sifat-sifat, ajaran dan kemuliaannya sepenuhnya sempurna dan rohani. Atas perintah Sri Krishna Caitanya mereka berkeliling untuk membebaskan mahluk-mahluk yang terikat oleh keburukan Kali, dengan membagikan amrita nama suci kepada setiap orang, setiap rumah, di pelosok desa dan kota, di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Mereka yang mengenal Tuhan Caitanya hendaknya mengucapkan nama suci Hari dan melayani para Vaishnava yang sangat dicintai oleh Sri Caitanya. Hanya dengan cara demikian kaki padma Tuhan Sri Hari dapat dicapai. Di dalam mahamantra yang terbentuk dari rangkaian enambelas Nama Suci,</p>
<p>HARE KRISHNA HARE KRISHNA<br />
KRISHNA KRISHNA HARE HARE<br />
HARE RAMA HARE RAMA<br />
RAMA RAMA HARE HARE<br />
terkandung segala-galanya. Inilah segala-galanya!</p>
<p>Mereka yang pada jaman Kali ini mendengarkan mata pelajaran tentang <em>sri guru tattva</em> (kebenaran sejati tentang sang guru kerohanian), mengucapkan nama suci Sri Hari dengan penuh perhatian, memuja Guru dan para sadhu, hanya mereka yang dipastikan akan mencapai kaki padma Tuhan. Sri Gaurachandra Caitanya Mahaprabhu telah turun ke dunia untuk menundukkan semua orang yang menentang sampradaya-sampradaya terpercaya. Beliau membagikan nama suci yang adalah intisari Veda-Veda, dan mengajarkan kemuliaan nama suci beserta kemuliaan para Vaishnava.</p>
<p>Oleh karena itu kita hanya ingin disibukkan dalam membicarakan kemuliaan Tuhan, nama suci, kegiatan rohani, dan para penyembah-Nya, dan berharap semoga segala dukacita dunia akan berakhir. Karena topik-topik seperti itulah yang benar-benar menjadi obat penawar bagi bisa ular samsara. Kita tidak ingin menjadi pemikir atau cendikiawan yang mengukur kebijaksanaan dengan logika, dan berpikir bahwa spekulasi logis adalah satu-satunya kitab suci, pramana yang tak terbantah. Tetapi kita hanya ingin bersukacita selamanya ketika menikmati kisah-kisah menakjubkan dan khusuk sepenuhnya dalam pemujian Tuhan serta para penyembah-Nya.<br />
Kita sungguh-sungguh berniat untuk berlindung pada kaki padma Sri Gaurasundara (Sri Caitanya), Putra Ibunda Saci, dan dengan sepenuh hati berdoa kepada para penyembah-Nya, “O Vaishnava, wahai Tuan bagi kehidupan kami! Mohon berkarunialah pada jiwa malang yang menderita ini. Buatlah kami pantas untuk mencapai tujuan yang senantiasa didambakan, semoga pikiran kami terpusat pada kaki padma Sri Gaurasundara tanpa gangguan.”<br />
Dalam semangat seperti ini para Goudiya Vaishnava senantiasa berusaha melayani seluruh dunia, semua makhluk dengan mengingatkan mereka bahwa betapa cinta yang begitu luhur dan agung menantikannya untuk segera datang dan kemudian segera turut menyelami samudera madu cintakasih yang begitu nikmat, yang airnya memancar dari Hati Tuhan Sendiri, Sang Kekasih Tertinggi. Hanya demi menyampaikan hal inilah kami mempersembahkan tulisan ini ke hadapan para pembaca. Inilah sebuah agama, sebuah jalan, sebuah Dharma agung yang diawali dengan cinta dan diakhiri pula dengan cinta. Inilah kehidupan Goudiya Vaishnava, yang diawali oleh cinta dan diakhiri pula dengan cinta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=89&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2011/08/25/jalan-goudiya-diawali-dan-diakhiri-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://29.media.tumblr.com/tumblr_ljsl0eNpL91qf35ako1_400.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">RK1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2011/08/haridas-thakur-and-prostitute.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">haridas-thakur-and-prostitute</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Luapan Tertinggi Banjir Airmata</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2010/02/10/luapan-tertinggi-banjir-airmata/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2010/02/10/luapan-tertinggi-banjir-airmata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 04:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Mahaprabhu merasakan ini dalam kebersamaan-Nya dengan Jagannath? Bagaimana mungkin tanah suci yang menganugerahkan pembebasan seketika dalam satu kehidupan, yang menjadi tujuan perziarahan semua orang, menjadi tempat yang penuh kesedihan dan dibanjiri airmata? Seharusnya semua orang yang datang kepada Jagannath tidak akan pernah menangis lagi, karena segala duka-citanya akan dihapuskan. Mengapa Mahaprabhu justru tinggal di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=82&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/jaga0-3.jpg"><img title="jaga0.3" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/jaga0-3.jpg?w=477&#038;h=305" alt="" width="477" height="305" /></a></p>
<p>Mengapa Mahaprabhu merasakan ini dalam kebersamaan-Nya dengan Jagannath? Bagaimana mungkin tanah suci yang menganugerahkan pembebasan seketika dalam satu kehidupan, yang menjadi tujuan perziarahan semua orang, menjadi tempat yang penuh kesedihan dan dibanjiri airmata? Seharusnya semua orang yang datang kepada Jagannath tidak akan pernah menangis lagi, karena segala duka-citanya akan dihapuskan. Mengapa Mahaprabhu justru tinggal di sini untuk menangis penuh kesedihan? Kita harus mengetahui siapakah sesungguhnya Sri Caitanya Mahaprabhu dan Jagannath.<span id="more-82"></span></p>
<p>Menurut Skanda Purana, Jyestha Purnima, hari purnama di bulan Jyestha (Mei-Juni) adalah hari ulang tahun Jagannath. Dikatakan bahwa pada hari itu Krishna muncul dalam bentuk-Nya yang unik, dengan Mata yang terbelalak besar, wajah yang bulat, tangan dan kaki-Nya mengkerut. Bentuk ini dikenal sebagai <em>maha-bhava-prakasa</em>, atau wujud kebahagiaan yang amat sangat luar biasa dari Krishna, Balarama dan Subhadra. Mereka bertiga hadir dalam bentuk Jagannath, Balabhadra dan Subhadra di Purusottama Ksetra atau Jagannath Puri.</p>
<p>Kemudian pertanyaannya adalah mengapa Krishna mengambil bentuk tersebut? Dijelaskan bahwa<em> Mahabhava-prakasa</em> adalah wujud kebahagiaan yang amat sangat dari Tuhan ketika sedang merasakan perpisahan, <em>viraha vidura</em>. Krishna, Balarama dan Subhadra merasakan pedihnya perpisahan dari Vraja-dhama, <em>vraja-viraha-vidura</em>. Mereka tinggal di sana secara kekal, namun Mereka merasa pedihnya perpisahan dari Vraja-dhama. Terutama Jagannathlah yang merasakan pedihnya perpisahan dari Radharani dan para gopi.</p>
<p>Mahaprabhu telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya melaksanakan <em>bhajana</em> dalam suasana hati perpisahan. Guru dari Mahaprabhu adalah Ishwara Puri dan guru kerohanian dari Ishwara Puri adalah Madhavendra Puri. Mereka semua adalah acarya-acarya agung, <em>mahanta-guru</em>. Mereka selalu sibuk melakukan <em>bhajana</em> dalam suasana hati perpisahan dengan Krishna, karena <em>viraha</em>, rasa pedih akibat perpisahan, adalah tingkatan tertinggi dalam Prema, hubungan cinta kasih.<br />
Itulah alasan mengapa Krishna meninggalkan Vrajabumi dan pergi ke Mathura, menempatkan penduduk Vraja-bhumi, khususnya para gopi, dalam lautan perpisahan. Rupa Goswami telah menjelaskan dalam Bhakti-rasamrta sindhu (1.2.285) :<br />
<em>premaiva gopa-ramanam kama ity agamat pratham<br />
ity uddhavadayo ‘py etam vanchani bhagavat-priyah</em><br />
Cinta kasih para gopi yang murni telah terkenal dengan nama <em>‘kama’. </em>Penyembah terkasih Tuhan, yang dikepalai oleh Sri Uddhava  sekalipun ingin merasakan cinta tersebut.</p>
<p>Hubungan cinta antara para gadis Vrajabhumi dengan Tuhan Yang Maha Esa Krishna bukanlah nafsu duniawi. Itu adalah cinta murni tanpa nafsu setitik pun. Karena itu perasaan sebagai kekasih ini terasa jutaan kali lebih besar dalam perpisahaan. <em>Ciran-milana</em>, pertemuan yang berkepanjangan, akan mengakibatkan kematian prema sebelum waktunya. Ada pepatah dalam bahasa Inggris “<strong>Familiarity breeds contempt</strong>”. Keakraban menimbulkan rasa kurang menghargai. Pertemuan sepasang kekasih yang terlampau sering kadang-kadang membuat mereka menjadi tak terlalu menghargai cinta di antara mereka berdua. Untuk menjaga agar prema selalu hidup dan meningkatkannya hari demi hari, setiap saat, Krishna lalu meninggalkan Vrajabhumi dan pergi ke Mathura, menempatkan para gadis Vrajabhumi dalam lautan <em>viraha</em>, perpisahan. Dengan cara ini mereka selalu berada dalam<em> nitya-prema-anandi</em>, secara eksklusif, setiap saat, hanya berpikir tentang Krishna. Mereka mencintai Krishna, dan akibat perpisahan, cinta mereka kepada  Krishna meningkat, tidak justru menurun.</p>
<p><em>Viraha</em>, atau <em>Vipralambha</em> ini artinya perpisahan eksternal. Krishna tidak tampak di depan mata. Krishna berada jauh. Namun Dia berada di sana di dalam hati. Itulah <em>viraha</em>. <em>Viraha</em> artinya di luar terlihat berpisah jauh, namun sangat dekat di hati. (Jauh di mata dekat di hati). Para gopi, terutama Radha, pimpinan mereka, ingin selalu menyimpan Krishna di hatinya. Jadi bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan? Jika Krishna tidak pergi jauh dan mereka merasa amat pedih akibat perpisahan, mereka tidak dapat menyimpan Krishna di hati mereka. Pada saat bertemu, perpisahan ada di dalam hati. Dan pada saat perpisahan eksternal, pertemuan terasa di dalam hati. Karena itu, mereka menyimpan Krishna yang sangat mereka cintai di lubuk hatinya yang terdalam dan merasakan perasaan cinta sebagai sepasang kekasih. Kebahagiaan dan rasa yang mereka dapatkan dari perpisahan jutaan kali lebih besar daripada pertemuan. Karena itu, perpisahan adalah tingkatan tertinggi dalam hubungan cinta sebagai kekasih.</p>
<p>Dengan kata-kata yang sangat manis, Krishna berkata, “Radhe, di manakah <em>viraha</em>? Manakah perpisahan? Tidak ada perpisahan, Radhe. Dalam <em>tattva,</em> tidak ada kata perpisahan sama sekali. Aku selalu bersama-Mu di Vrajabhumi. <em>Viraha</em> itu adalah tingkatan tertinggi dalam prema, hubungan cinta kasih. Jika sebelumnya tidak ada <em>viraha</em>, maka prema ini akan padam sebelum waktunya, <em>akala mrtyu</em>. Karena itu <em>viraha </em>menjaga agar prema selalu hidup.</p>
<p>“Radhe, cinta-Mu kepada-Ku bagaikan samudera yang sangat dalam. Agar dapat mencapai samudera tersebut, dan tenggelam di sana, Aku telah mengambil bentuk ini, Jagannath. Dalam bentuk ini, Aku akan tinggal secara kekal di Sri Kshetra (Jagannath Puri).”</p>
<p>Inilah <em>Jagannath-vigraha, radha-viraha-vidura</em>, Krishna yang merasakan perpisahan yang mendalam dengan Radha. Dalam bentuk sebatang kayu, Dia mengapung di tengah Samudera Radhabhava, yang terdapat dalam hati Radharani.</p>
<p>“Dan ketika Aku muncul lagi sebagai Caitanya Mahaprabhu, mengambil perasaan hati dan warna badan-Mu, Aku akan tinggal di Jagannath Puri Dhama.”</p>
<p>Caitanya Mahaprabhu adalah <em>krishna-viraha-vidura</em> dan Jagannath adalah <em>radha-viraha-vidura.</em> Dua bentuk yang sedang menangis hadir di Jagannath Puri. Caitanya Mahaprabhu berada dalam suasana hati Radharani, menangis untuk Krishna dan Jagannath adalah Krishna yang menangis untuk Radha.<br />
Kemudian Krishna memberitahu Radha, “Kakak-Ku Balarama dan adik-Ku Subhadra telah membantu-Ku untuk datang kembali ke Vrajabhumi sehingga Kita bisa bersatu. Karena itu Aku juga akan mengajak mereka bersama-Ku dalam bentuk yang mereka dapatkan ketika mereka datang ke Vrajabhumi. Dalam bentuk ini, Kami Bertiga akan tinggal secara kekal di Nilacala, Jagannath Puri Dhama.”</p>
<p>Jagannath, Baladeva dan Subhadra adalah tiga batang kayu yang mengapung dalam lautan <em>radha-prema</em>, tidak ada yang lain. Inilah <em>tattva</em>-nya.<br />
<em>Daru-brahma murti nitya prakata</em> “Jadi Aku akan mengambil bentuk yang dikenal sebagai Daru-Brahma, karena <em>murti</em> ini akan diukir dari kayu<em> neem</em>. Secara kekal Aku akan tinggal di Sri Ksetra, Nilacala. Kemudian dalam bentuk-Ku sebagai Sri Krishna Caitanya Aku akan pergi ke sana dan merasakan <em>milanantaka-virah</em>a, pertemuan setelah perpisahan.”</p>
<p><a href="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/scm-jagannatha.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-84" title="scm-jagannatha" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/scm-jagannatha.jpg?w=243&#038;h=196" alt="" width="243" height="196" /></a>Caitanya Mahaprabhu pergi dan tinggal di sana di Sri Ksetra, karena Jagannath adalah Krishna yang merasakan kepedihan mendalam karena berpisah dari Radha, dan Caitanya Mahaprabhu merasakan perpisahan dengan Krishna, dalam suasana hati sebagai Radharani. Ketika Mahaprabhu melihat Jagannath, Jagannath memperlihatkan bentuk Syamasundara kepada-Nya, dan ketika Jagannatha melihat Mahaprabhu, Dia melihat Radha. Itulah pertemuan kembali antara Radha dan Krishna.<br />
<em>rasaraja-mahabhava eka-tanu haya<br />
nama-sankirtana rase jagat mataiya</em><br />
Kemudian Krishna berkata, “Kepada mereka, para<em> jiva </em>yang sangat beruntung, Aku akan memberikan kesempatan untuk merasakan <em>prema-rasa </em>ini melalui Sankirtana. Mereka akan merasakan <em>Gaura-kirtana-rasa.</em> Dan semua para vraja-gopa dan gopi akan menjadi<em> parikara</em>, rekan-rekan Caitanya Mahaprabhu, bentuk perpaduan antara Radha dan Krishna.<br />
Jadi inilah sebabnya mengapa Jagannath, Baladeva dan Subhadra tinggal secara kekal di Jagannatha Puri Dhama dan mengapa Mereka muncul dalam bentuk Daru-brahma, tiga batang kayu, mengapung dalam lautan<em> radha-prema.</em></p>
<p>Topik ini sangat rahasia dan diungkapkan ke dunia hanyalah berkat karunia Mahaprabhu beserta para Gosvami. Suasana hati para gopi ini dirasakan oleh Mahaprabhu ketika Rathayatra. Hanya Svarupa Damodara, Raya Ramananda, dan rekan-rekan terdekat-Nya saja yang dapat memahami-Nya. Para Gosvami di bawah bimbingan mereka kemudian menuliskan hal ini.</p>
<p>Ungkapan kerinduan para gopi terutama Srimati Radharani tersirat dalam sastra Veda, namun sebelum Mahaprabhu tak seorangpun mengetahuinya.<br />
Ini adalah topik yang rahasia dan sangat mulia. Tidak diperuntukkan bagi orang-orang duniawi yang bodoh. Kita pun tidak mampu masuk ke dalam pembicaraan yang sangat tinggi ini. Menguak rahasia hubungan cintakasih yang begitu dalam dan intim antara Tuhan dengan penyembah-Nya. Namun oleh belas kasih para Vaishnava, <em>gaudiya-guru-varga</em>, kita dapat mengenalnya. Jalan menuju Tuhan yang dikenal sebagai Jalan Pemujaan dalam Kerinduan (<em>viraha-bhajana</em>) ini merupakan ajaran yang diwariskan dalam garis perguruan Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu yaitu Goudiya Sampradaya. Secara khusus dia hanya dapat diperoleh dari garis yang menurun melalui Sri Rupa-Raghunatha, Rupanuga-guru-varga. Kini kita dengan tulus dan rendah hati berdoa kepada Sri Guru agar dapat menghayati semua ini. Kita tidak ingin hal lain dari beliau. Kita hanya ingin masuk dalam pelayanan pribadinya kepada Pasangan Suci Sri Sri Radha Krishna.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=82&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2010/02/10/luapan-tertinggi-banjir-airmata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/jaga0-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jaga0.3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2010/02/scm-jagannatha.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">scm-jagannatha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lagu Kerinduan Yang Memilukan</title>
		<link>http://premodhuri.wordpress.com/2009/12/07/lagu-kerinduan-yang-memilukan/</link>
		<comments>http://premodhuri.wordpress.com/2009/12/07/lagu-kerinduan-yang-memilukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 02:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dasanrangarajan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kerinduan]]></category>
		<category><![CDATA[perpisahan]]></category>
		<category><![CDATA[radha]]></category>
		<category><![CDATA[viraha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://premodhuri.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Nyanyian kerinduan ini mengungkapkan perasaan Srimati Radharani. Perasaan yang sama yang dirasakan oleh Mahaprabhu di Jagannath Puri. “Oh Krishnacandra, kini Engkau tinggal begitu jauh di kota besar Madhupuri Mathura. Tapi bagaimanakah keadaan desa sederhana Vrindavan yang telah Engkau tinggalkan? Semua Vrajavasi merasakan sakit yang amat sangat dan duka cita yang dalam karena berpisah dengan Diri-Mu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=76&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../files/2009/12/rr02.jpg"><img class="aligncenter" title="rr02" src="../files/2009/12/rr02.jpg" alt="" width="400" height="400" /></a>Nyanyian kerinduan ini mengungkapkan perasaan  Srimati Radharani. Perasaan yang sama yang dirasakan oleh Mahaprabhu di Jagannath Puri.</p>
<p>“Oh Krishnacandra, kini Engkau tinggal begitu jauh di kota besar Madhupuri Mathura. Tapi bagaimanakah keadaan desa sederhana Vrindavan yang telah Engkau tinggalkan? Semua Vrajavasi merasakan sakit yang amat sangat dan duka cita yang dalam karena berpisah dengan Diri-Mu. Mereka berseru-seru, “Kanu! Kanu! Kanu!”, tapi tak ada jawaban, hanyalah gemanya yang terdengar. “Kanu! Kanu di manakah Engkau? Bahkan burung-burung pun memanggil-manggil Kanu! Kanu!”. Di mana-mana setiap orang menangis dan meratap. O Yasomati-nandana, Lihatlah ayah ibu-Mu, Yasoda-maiya dan Nanda Baba tersedu-sedu. Matanya bagaikan telah buta, mereka kini tak dapat melihat lagi, dan hanya duduk menangis. Mereka sudah tak punya tenaga, tinggal kulit membalut tulang. Mereka hampir mati tanpa makan apapun, karena Yasoda-maiya sudah tak pernah memasak lagi. Untuk siapakah kini mereka harus memasak? Engkau sudah tak ada di sini. Mereka bahkan tak punya tenaga lagi untuk berdiri”.<span id="more-76"></span></p>
<p>“Lihatlah keadaan semua sapi-sapi dan kawan-kawan-Mu. Mereka tak dapat mendengar lagi seruling-Mu memanggil mereka. Pasar-pasar dan jalan-jalan telah menjadi padang gurun yang terabaikan. Tak seorangpun ada di sana. Tak seorang pun. Dahulu lebah-lebah sangat sibuk mengumpulkan madu, tapi kini mereka semua begitu berduka, hingga bunga-bunga pun ditinggalkannya begitu saja. Bahkan lebah-lebah ini pun menangis berguling-guling di tanah oleh sakitnya derita perpisahan”.</p>
<p>“Pohon-pohon tampak layu dan mengering. Merak tak lagi menari, nuri tak lagi berkicau. Burung kuk-kuk menjadi bisu, tidak lagi mereka berseru kuhu, kuhu. Semuanya menderita dalam perpisahan dengan Diri-Mu”</p>
<p>“Rai yang merindu ini (Srimati Radharani) terbakar terus-menerus oleh panasnya demam perpisahan. Di mana-mana, di segala arah, setiap orang tenggelam dalam kesedihan karena berpisah dengan Diri-Mu. Bahkan sungai Yamunapun tak mengalir lagi. Air yang tampak di Yamuna itu sesungguhnya air mata yang mengucur dari mata semua gopi. Mengapa Engkau tinggal begitu jauh di Mathura, sedangkan setiap orang di Vrindavan telah dekat dengan ajalnya? Dengan penuh kesedihan Govinda-dasa mengisahkan semua hal ini”</p>
<p><a href="http://premodhuri.files.wordpress.com/2009/12/n_bose_radhas_viraha.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-78" title="N_Bose_Radhas_Viraha" src="http://premodhuri.files.wordpress.com/2009/12/n_bose_radhas_viraha.jpg?w=476&#038;h=784" alt="" width="476" height="784" /></a></p>
<p>“Aku membangun sebuah rumah dengan harapan dapat hidup dengan bahagia di sana, tapi tiba-tiba rumah itu terbakar api. Aku ingin mandi dalam samudera madu untuk menyejukkan hati-Ku, tapi justru malah hancur dan terbakar. Aku ingin pergi mandi ke laut untuk membuat hati-Ku menjadi lembut, tapi yang kulihat justru tak ada air setetespun. Tak sedikitpun. Kemudian Aku memandang rembulan, berharap pancaran cahayanya yang menyejukkan, namun justru yang Kudapat adalah matahari bersinar terik yang panasnya membakar-Ku.”</p>
<p>“Aku berpikir sudah berada di tempat yang tinggi dan kering, tapi ternyata entah kenapa aku jatuh ke dalam lautan yang tanpa akhir. Aku inginkan kemakmuran, namun Aku justru menjadi tak punya uang sepeserpun. Sebuah permata yang tak ternilai harganya ada dalam tangan-Ku, tapi kini lenyap entah kemana.”</p>
<p>“Aku membangun sebuah kota di tepi samudera, agar Aku dapat memperoleh permata dari samudera itu. Kemudian Aku membangun sebuah bendungan dan mulai memindahkan air dari satu sisi ke sisi lainnya. Sampai lautan itu kering ternyata tak ada permata apapun yang tampak di sana. Aku sungguh tak beruntung. Aku memandang mendung mengharap hujan untuk menawarkan dahaga-Ku, tapi justru petir menghantam kepala-Ku.”</p>
<p>“Aku mencintai Krishna berharap menjadi bahagia, dan Aku sudah menyerahkan badan-Ku, pikiran-Ku, hati, jiwa dan segalanya bagi Dia, tapi Dia justru meninggalkan-Ku. Api perpisahan mengurung dan membakar-Ku. Cintakasih Krishna bagaikan samudera yang tak  terbatas dan Aku ingin membenamkan diri-Ku dalam samudera itu. Tapi airnya justru mengering berganti menjadi kobaran api. Aku terbakar dalam perpisahan. Apa yang harus Kulakukan?”</p>
<p>Hati Srimati Radhika tercurah, mengalir, memasuki relung hati sang kawi. Dari bibir dan goresan penanya, penyair ini mengungkapkan pada dunia, betapa tak terkatakan pedihnya hati Sang Dewi yang merindukan Kekasih-Nya, merindukan Tuhan bagi Hati-Nya.</p>
<p>Suasana hati Srimati Radharani ini adalah perasaan ketika Rathayatra. Inilah yang dirasakan Sri Caitanya Mahaprabhu. Kemudian Mahaprabhu mengucapkan sloka ini, “Krishna-Ku tercinta, engkau adalah jiwa dan kehidupan Vrindavan-dhama. Khususnya Engkau adalah hidup Nanda Maharaja. Engkau adalah satu-satunya kekayaan tanah Vrindavan, dan Engkau juga sangat berbelas kasih. Mohon datanglah dan berikan mereka semua hidup. Bermurah hatilah untuk menempatkan lagi kaki padma-Mu di Vrindavan.”</p>
<p>Mahaprabu merasakan semua perasaan hati Srimati Radharani ini. Perasaan ini kemudian mengalir melalui Svarupa Damodara sampai kepada Sri Rupa Goswami dan kepada Srila Raghunatha Goswami. Rupa-Raghunatha kemudian memuatnya dalam tulisan-tulisan mereka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/premodhuri.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/premodhuri.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=premodhuri.wordpress.com&amp;blog=9839671&amp;post=76&amp;subd=premodhuri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://premodhuri.wordpress.com/2009/12/07/lagu-kerinduan-yang-memilukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5535d5ed18031d994463b245508305a1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dasanrangarajan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://premodhuri.files.wordpress.com/2009/12/n_bose_radhas_viraha.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">N_Bose_Radhas_Viraha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
